Layar televisi tabung tua di kamar mandi redup menyala, memancarkan rekaman seluruh perjalanan simulasi dari awal hingga pengulangan terakhir. Nova (yang kini berjiwakan ibunya atau mungkin anaknya) bersedekap, menatap bayangan dirinya di dalam layar dengan dahi berkerut dan tatapan heran.
"Dasar... Apakah aku di dalam cerita itu memang seaneh ini?" gumam Nova sambil menggelengkan kepala. "Sok positif banget, anjir."
Arfi yang berdiri di sampingnya tertawa pelan, terkekeh hampa. "Itu karena figur Nova diambil dari masa kecilku waktu SD yang sok positif. Padahal waktu itu ada masalah kesehatan yang sama sekali tidak kuketahui... Seperti waktu aku terkena infeksi saluran kemih, makanya aku sering memukul alat vitalku sendiri. Tapi ya... anak-anak cowok SD di sekelilingku malah berpikiran yang enggak-enggak dan penuh nafsu."
"Kenapa ceritanya mirip banget sama kisah hidupmu, bangke?!" potong Nova dengan mata membelalak. "Padahal Nova di dalam simulasi sudah memeluk Sahsha sewaktu dia bisa mengulang waktu. Eh, di naskahmu ini malah lebih memilih ingin meluapkan nafsu sama Ilham. Bodoh banget, bajingan!"
"Itu memang inspirasi dari pengalamanku sendiri, sih," sahut Arfi santai. "Menurut Ilham, aku di cerita ini agak keterlaluan, tapi ya... semuanya memang terinspirasi dari kehidupanku. Anjir banget kan ceritanya?"
Nova menghela napas berat, menunjuk tayangan adegan monster. "Lalu soal monster-monster itu... Bagus sih, lumayan realistis menggambarkan bentuk trauma seseorang. Tapi ini terlalu dilebih-lebihkan, gak sih? Bejir banget tampilannya!"
"Itu karena Ilham memang agak kehilangan akal sehatnya waktu bikin sketsa desainnya. Mungkin efek obat penenang. Aku juga dulu pernah memakai obat yang sama," jawab Arfi.
Nova menoleh tajam. "Pantas saja, bjir! Kamu gak takut penyalahgunaan, hah?!"
"Tentang itu... dosisnya kecil kok, cuma tiga pil," balas Arfi enteng.
"Bangke banget..." umpat Nova seraya menepuk jidatnya. "Lalu untuk seri kedua, kenapa aku dihajar sama keluarga halusinasi itu, hah?! Sampai ada rencana pembunuhan segala!"
"Itu karena Kei yang menyukai cerita dengan 'trailer' berdarah-darah. Hehe... Aku juga suka, sih."
"Kepala kamu sudah gak beres, jir! Agak kelainan!"
"Memang aku kelainan, sih. Memangnya kenapa?" Arfi mengangkat bahu.
Nova menghela napas panjang. "Hadeh... Kamu mirip banget sama Kei kalau lagi bilang hadeh."
"Itu karena kelakuanmu sendiri yang agak lain."
Nova menatap layar TV tua itu lagi dengan dahi berkerut. "Apakah benar seri kedua itu buatanmu? Macam gak nyambung, jir!"
"Itu sebenarnya 'fannovel', tapi sengaja aku sambungkan biar kesannya kayak 'multiverse' lalu dijadikan satu. Pintar kan aku?" Arfi tersenyum bangga.
"Pintar matamu!" semprot Nova pedas.
Tiba-tiba, udara di kamar itu bergetar hebat. Langkah kaki berat bergema dari sudut ruangan. "Dokter Likton"—sosok ayah Arfi—muncul dari balik kegelapan. Kehadirannya di sana adalah untuk mengacaukan dan merusak naskah cerita tersebut. Meski berdalih ingin memperbagus dan memperbaiki jalan novelnya, ia menatap Arfi dengan tajam dan berkata, "Emangnya kamu tahu? Jangan sok melain-melainlah atau merasa benar atas kesalahanmu. Aku ini ayahmu!"
"Pengatur dan penjaga keseimbanganmu! Kamu itu hanya kelainan, kamu kelainan! Untuk apa aku menciptakan disabilitas sepertimu, hah?" Kepala Dokter Likton mulai bergetar dan mengalami 'glitch" ke mana-mana.
"Aku adalah pemilik rumah ini, dan itulah aturannya—seperti aturan Tuhan yang tidak boleh dilanggar oleh orang cacat sepertimu!" teriaknya dengan suara menggelegar, sementara 'glitch' di tubuhnya semakin tak terkendali. "Aku adalah Tuhan yang berada di rumah ini! Pengatur dan pengubah skrip di setiap otak yang salah, sepertimu!"
Arfi menatap pria tua itu dengan pandangan dingin. "Tidak ada Ayah di rumah (dunia) ini. Di rumah ini... hanya ada Ibu."
"Kamu gak tahu gimana rasanya menjadi aku!" teriak Arfi tak kalah lantang. "Setidaknya aku tidak berbohong dengan diriku sendiri!"
Seketika, perseteruan sengit antara ayah dan anak itu meletus. Perdebatan ideologis membakar udara, hingga akhirnya Dokter Likton dihadapkan pada satu pilihan mutlak kepada Arfi: memecahkan televisi tua itu untuk keluar dari 'escapism', atau mengganti saluran TV untuk tetap terperangkap selamanya di dalam simulasi.