Duniaku tidak pernah benar-benar bersih. Di balik dinding apartemen yang tampak steril dan senyum palsu para NPC selalu ada aroma amis dari data yang membusuk. Tuntutan rutinitas yang sangat membosankan dan mencekek, seolah seperti diriku yang selalu di tampar mukanya setiap hari.
Aku terbangun lagi dari kasur itu. Pagi yang sama. "Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh." Suara dari kita 'penjaga'-ku itu, semakin dingin dan semakin menjengkelkan. Rutinitas adalah musuh utamaku. Kali ini aku tidak berbicara satu kata pun, karena aku sudah sangat muak kepada 'penjaga'-ku itu; untuk apa juga aku meladeni seseorang yang menghinaku? Aku bangkit, menendang Tedi yang mencoba merayap mendekati kakiku dengan gerakan patah-patah. Boneka sialan itu mengeluarkan suara 'ciit' yang menyedihkan saat tubuhnya menghantam dinding.
Lilis si Bunga sudah menungguku di ruang tengah. Sulurnya hari ini lebih agresif, mencoba membelit gagang pintu kulkas. Tanpa bicara, aku mengambil korek api zippo dari sakuku, menyulut api kecil, dan membakar ujung daunnya. Bau rambut terbakar dan aroma mawar busuk memenuhi ruangan. Dia menarik diri, berteriak kesakitan.
"Jangan sentuh makananku, benalu tanaman," gerutuku.
Aku berjalan ke laboratorium Jek. Kakak alienku itu sedang asyik membedah mikroba yang ukurannya sebesar kepalan tangan, makhluk transparan yang berdenyut-denyut. Aku sengaja menjatuhkan tumpukan buku tebal ke lantai tepat di samping telinga antenanya yang berisik. Jek tersentak, matanya yang sedikit bekas bolong dari penyakit itu terlihat bergerak ke mana-mana. Aku tertawa pendek, sebuah tawa yang kering tanpa gairah, lalu melenggang pergi.
Sebelum aku pergi ke sekolah, aku sempat-sempatnya menyusuri lantai terbawah apartemen, dan mendapati perpustakaan yang sebagiannya yang bertuliskan kosang tanpa bacaan sekalipun, dan aku pun terheran-heran. "Kenapa Dokter Likton menyimpan buku kosong ini yah?"
Di sekolah, pemandangan masih sama. Aku adalah "Ratu". Gadis-gadis NPC memuji sepatuku, para pria NPC berdiri mematung memberikan jalan. Aku berjalan di tengah koridor dengan tatapan cuek, mengunyah permen karet dengan suara keras. Di ujung koridor, aku melihat mereka. Tim-ku yang hancur.
Ilham berdiri di sana, sedang merapikan dasinya di depan kaca jendela, mengagumi pantulannya sendiri dengan senyum narsis yang memuakkan. Clara berdiri di pojok, memeluk tasnya erat-erat, matanya liar ketakutan menatap setiap orang yang lewat. Ken tampak lesu, bajunya kusut karena habis dipalak murid kelas satu tadi pagi. Dan Sahsha... dia berdiri mematung, tapi matanya bergerak mengikuti lalat yang terbang dengan kecepatan yang tak masuk akal.
"Dengar semuanya," kataku sambil berdiri di tengah lingkaran mereka. Suaraku rendah, penuh otoritas yang tak bisa dibantah. "Aku bosan dengan simulasi ini. Clara sudah melihat 'sisi lain' kemarin. Sekarang giliran kita semua."
Aku merogoh saku jaket hitamku. Aku mengeluarkan botol pil ungu yang aku curi dari lemari rahasia Dokter Likton pagi tadi. Pil 'Deterlualis'.
"Nova, apa kau gila? Kita bisa mati!" suara Clara melengking, penuh kecemasan.
"Kita sudah mati di dunia ini, Clara," balasku tajam. "Pilih: mau jadi manekin selamanya di sini, atau ikut aku melihat monster yang sebenarnya?"
Ilham menatap pil itu, lalu menatap wajahnya sendiri di pantulan botol. "Kalau ini bisa membuatku lebih dari sekadar karakter di sekolah bodoh ini, aku ikut."
Satu per satu, mereka mengambil pil itu. Kami menelannya secara bersamaan di tengah koridor sekolah yang ramai. Detik berikutnya, dunia seolah-olah diputar balik oleh tangan raksasa.