Pagi ini, "Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh," terdengar lebih seperti musik latar belakang yang membosankan daripada ejekan seseorang di dalam otakku sendiri yang mengaku sebagai penjaganya.
Aku melangkah melewati ruang tengah dengan gaya yang lebih menantang. 'Lilis Bunga' tampak benar-benar tertekan; kelopaknya menghitam di bagian pinggir, dan dia menarik semua sulurnya ke atas plafon, seolah-olah lantai yang kupijak telah berubah menjadi bara api. Dia risih. Dia benci bagaimana aku menatapnya—bukan sebagai anak, melainkan sebagai hama yang harus dibasmi.
Di dapur, 'Jek Alien' sedang menuangkan cairan neon ke dalam gelas. Saat aku lewat, dia sengaja menyenggol meja hingga cairannya tumpah. Aku tidak marah. Aku justru mengambil gelas itu dan menyiramkan sisanya ke wajah metaliknya yang dingin.
"Ups, tanganku refleks, Jek," kataku sambil tersenyum miring.
Jek mengeluarkan suara geraman statis yang menyakitkan telinga. Mata-matanya berputar cepat, memproses kemarahan yang tidak diizinkan oleh skenario Dokter Likton untuk diluapkan. Aku berjalan keluar, menendang pintu depan hingga engselnya berderit protes.
'Sekolah: Sandiwara Kekasih Sang Dewa'
Di gerbang sekolah, aku sempat memperhatikan 'Ken' dari kejauhan. Saat ia berjalan sendirian melewati kerumunan murid, tubuhnya membungkuk kaku dan kakinya gemetar. Ia tampak ketakutan setengah mati hanya karena tak sengaja bersenggolan dengan NPC lain, buru-buru menunduk dan memeluk tasnya erat-erat bagai kelinci yang terpojok.
Namun, begitu pandangan mata Ken menangkap keberadaanku, seluruh ketakutannya menguap seketika. Wajahnya langsung berbinar cerah—terlalu cerah.
"Nova-ku sayang! Kamu lama sekali!" Ken berlari kecil menghampiriku dan seketika menggelayut manja di lenganku.
Ia mendadak menjadi sangat bermanja-manja, berbanding terbalik dengan wujud penakutnya saat sendirian tadi. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku sambil berjalan menyusuri koridor, mengabaikan tatapan jijik dari para NPC. Selama berada di sisiku, Ken bertingkah seolah-olah aku adalah seluruh jimat pelindung dan pusat gravitasinya.
"Kamu tahu tidak? Aku tadi menulis puisi tentang betapa cantiknya pantulanmu di mataku," bisiknya manja dengan pipi yang memerah.
Aku merasa mual. Pikirku ini mungkin bagian dari rencana Dokter Likton sang dewa 'Pengubah Naskah' untuk mengujiku—ingin melihat apakah aku akan luluh pada kasih sayang palsu dan aneh ini. Aku hanya mendengus cuek, membiarkan Ken terus meracau tentang betapa dia tidak bisa hidup tanpaku. Di dunia tanpa hati ini, Ken yang penakut di luar namun mendadak manja saat di sampingku adalah anomali yang paling menggelikan.
Tak jauh di depan koridor, 'Ilham' berjalan dengan gaya narsis khasnya. Ia sibuk menatap pantulan dirinya di layar ponsel, merapikan rambutnya tanpa peduli pada kekacauan simulasi di sekitarnya. "Nova! Lihat, pencahayaan pagi ini membuat ketampananku naik sepuluh kali lipat," serunya penuh percaya diri.
'Sudut Pandang Sahsha: Bayangan di Balik Ratu'
Di sisi lain koridor, 'Sahsha' berdiri tegak seperti patung prajurit. Mata hitamnya yang tajam tidak pernah berhenti memindai area sekitarnya. Di sampingnya, 'Clara' menunduk dalam, memeluk buku-bukunya dengan tangan yang gemetar hebat.
Banyak murid NPC yang mencoba mendekati Clara untuk mengejeknya—melihat betapa rentannya dia di siklus kali ini adalah hiburan bagi sistem. Namun, sebelum satu pun hinaan keluar dari mulut mereka, Sahsha sudah berdiri di depan mereka.
'Sret!'
Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk mata manusia, Sahsha menepis tangan seorang siswa yang hendak menarik tas Clara. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap mereka dengan pandangan dingin yang seolah berkata: 'Langkah selanjutnya adalah kematian.'
Sahsha tidak membully Clara. Meskipun semua orang di sekolah ini menganggap Clara adalah target empuk, Sahsha justru menjadi pelindung yang tak terlihat. Bukan karena dia merasa kasihan, melainkan karena perintahku. Baginya, kata-kataku adalah hukum absolut.
"Nova bilang, kau adalah bagian dari tim. Tugasku adalah menjamin keselamatanmu," suara Sahsha datar tanpa emosi saat menyerahkan kembali pulpen Clara yang terjatuh.