Good morning, Nova: hard and the loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #5

Topeng Cermin dan Saksi Bisu

Di dalam tidur lelapku, aku bermimpi bertemu dengan sosok Deterlualis (Pengetahuan Agung). Kali ini ia berwujud seorang pria tinggi bermata empat yang berdiri di tengah perpustakaan amat abstrak—rak-rak buku melayang tanpa gravitasi di bawah langit-langit berhiaskan lautan bintang mati. Ia berkata kepadaku dengan suara yang berdengung-dengung. "Jangan harap kalau kau menjadi Deterlualis yang tidak fana, kau bisa terbebas dari dosamu, Nova. Kamu cuma beruntung karena aku telah menjadi bangkai."

Aku pun membalas tatapan dinginnya. "Emangnya kenapa aku harus percaya dengan dosa," kata keraguanku. "Moral menciptakan dosa itu hanya supaya tidak ada yang merasa rugi. Itulah mengapa orang-orang membuat konsep dosa, padahal itu tidaklah mempan untuk menekan kejahatan mereka!" Aku pun lanjut membalas. "Lagi pula, aku ini sudah menjadi yang mahakuasa dan mahatahu, jadi mana mungkin aku bisa terpengaruh dengan konsep dosa dan pahala!"

Deterlualis pun membalas keangkuhanku. "Oh, ya? Maka jangan pernah kau berpikiran senang ya... karena kamu memiliki banyak sekali dosa, membuat orang merasa rugi. Walaupun kau entitas omnipoten dan omniscient, kamu tetaplah entitas yang punya banyak salah."

Aku pun terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman dan menyebalkan.

"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."

Suara dari kita 'penjaga'-ku itu terdengar lebih tajam, seolah-olah seseorang di dalam kepalaku itu mulai berkarat oleh kebencian yang menumpuk. Aku terbangun bukan karena matahari, melainkan karena getaran halus di bawah tempat tidurku. 'Tedi' kini tidak lagi bersembunyi. Boneka itu duduk di atas kursi meja belajarku dengan tatapan yang menyeramkan.

Aku bangkit, melemparkan bantal ke arahnya, dan berjalan menuju ruang tengah. 'Lilis Bunga' kini sudah tidak lagi mencoba menjauh. Dia tampak layu, rambut kelopak bunganya berwarna marah gelap berguguran, meninggalkan jejak lendir yang berbau seperti tanah pekuburan. Dia tahu, aku sudah tidak lagi takut pada ancaman biologisnya. Setiap langkahku di atas kelopak yang berguguran itu terasa seperti menghancurkan sisa-sisa kesucian rumah ini.

Di dapur, 'Jek Alien' sedang sibuk dengan peralatan bedah. Dia tidak lagi menatapku dengan mata yang sekelilingnya banyak lubang-lubang; dia membelakangiku, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Aku sengaja menendang kaleng logam di dekat kakinya. Bunyinya memantul nyaring, tapi dia tidak menoleh. Dia hanya mengeluarkan suara frekuensi dari antenanya— dengan sebuah tawa yang dipaksakan oleh sistem untuk menutupi rasa takutnya yang luar biasa terhadapku.

"Kau sangat berisik hari ini, Jek," kataku datar, lalu meraih roti tawar di meja tanpa menyapanya. Aku berjalan keluar rumah, meninggalkan kegilaan di balik pintu yang mulai retak karena tekanan sistem.

'Panggung Sandiwara di Koridor'

Sekolah terasa seperti sebuah teater yang dipaksakan. Begitu aku masuk ke gerbang, para NPC—murid-murid dengan senyum yang diprogram hingga ke urat saraf—menyambutku dengan sorakan yang monoton. Namun, langkahku terhenti saat melihat pemandangan di dekat loker.

'Ken'. Dia berdiri di sana, dikelilingi oleh gadis-gadis NPC. Mereka tampak berbisik-bisik, tawa mereka terdengar seperti lonceng perak yang sengaja dibuat untuk memancing kecemburuan. Salah satu gadis itu menggandeng lengan Ken, dan Ken yang penakut tampak kikuk namun tak berdaya menolaknya.

Darahku mendidih, bukan karena cinta, melainkan karena drama yang dibangun sistem ini terlalu picik. Aku melangkah mendekat. Ken menyadari kehadiranku, dan seketika itu juga dia melepaskan lengan gadis itu, wajahnya berubah menjadi topeng kepolosan yang manja.

"Nova! Kamu sudah datang?" sapanya, lalu dengan cepat berlari mendekat untuk merangkul bahuku.

Gadis itu menatapku dengan mata yang kosong—karena dia hanyalah program. Aku menatap lurus ke mata Ken, tatapanku dingin sekeras baja. "Itu cuma teman kamu, kan? Bukan pacar kamu, kan... Ayang?"

Lihat selengkapnya