Pagi ini, "Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh, lebih bodoh daripada orang yang ada di dunia!"
"OHOK, OHOK!"
Suara dari penjagaku itu kini terdengar seperti orang-orang yang sedang sekarat kesabarannya dan terbatuk-batuk di dalam gendang telingaku. Aku terbangun dengan rasa mual yang luar biasa, tapi bukan karena sakit. Aku mual karena udara di rumah ini sudah tidak lagi mengandung oksigen, melainkan kebencian murni.
Aku melangkah ke dapur dengan langkah gontai. Di atas meja makan, tersedia segelas susu putih yang tampak segar. Di sampingnya, 'Lilis Bunga' berdiri membeku, kelopak-kelopaknya yang layu bergetar hebat. Aku tahu ada sesuatu yang salah. Aroma susunya tidak amis, melainkan tajam seperti cairan pembersih lantai yang paling keras.
Aku menatap 'Jek Alien' yang berdiri di pojok ruangan. Dia tidak bergerak, tapi kedua matanya yang di penuhi bekas lubang-lubang fokus menatap gelas itu. Aku tersenyum nakal. Tanpa ragu, aku meraih gelas itu dan meminumnya dalam sekali teguk.
Cairan itu terasa membakar tenggorokanku. Aku bisa merasakan organ dalamku seolah-olah sedang dicuci oleh asam yang sangat kuat. Namun, alih-alih muntah darah atau jatuh tersungkur, aku justru merasa... segar. Kekuatan 'Respond' dari Pengetahuan Agung di nadiku bekerja secara otomatis. Ia mengubah racun itu menjadi energi mentah yang memperkuat pulsasi cahaya ungu di pergelangan tanganku.
Aku membanting gelas kosong itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Rasanya agak kurang manis, Jek," kataku sambil menyeka bibirku. "Lain kali, pakai sianida yang lebih mahal."
Jek mengeluarkan suara pekikan statis yang memilukan. Dia risih. Dia sangat ingin aku mati, tapi sistem Dokter Likton tidak mengizinkan subjek utamanya hancur sebelum bab terakhir. Aku berjalan keluar rumah dengan tawa yang lebih mirip suara retakan kaca, meninggalkan "keluargaku" yang kini benar-benar ketakutan padaku.
'Sekolah: Fragmen Memori dan Luka Ken'
Di koridor sekolah, aku melihat 'Ken' sedang berdiri menyendiri di bawah bayangan pohon beringin tua. Saat berdiri sendiri tanpa diriku di sisinya, ia tampak begitu ketakutan, jari-jarinya terus memainkan koin perak di genggamannya dengan tubuh gemetar. Saat aku mendekat, memori tentang "Versi Ken" di awal siklus mendadak menghantam kepalaku.
Aku teringat saat-saat pertama kami dekat. Saat itu, dunianya sedang runtuh. Ken terjebak dalam pusaran fitnah dan ketakutan; dia dituduh terlibat dalam kasus penindasan dan tuduhan palsu yang membuat seluruh sekolah menghujatnya. Namanya dicoret dari segala kegiatan, dan sifat penakutnya makin parah hingga ia hampir memutuskan untuk menghilang dari simulasi ini selamanya.
Tapi aku ada di sana. Aku, Nova—menggunakan sisa-sisa "kewarasan" untuk membongkar bahwa kasus itu adalah jebakan yang dirancang untuk menjatuhkannya. Aku menyelamatkannya dari kehancuran martabat. Dan sejak hari itu, kami jadian. Itu adalah alasan kenapa Ken begitu manja, bucin, dan bergantung padaku di siklus tanpa hati ini. Dia mencintaiku bukan hanya sebagai kekasih, melainkan sebagai juru selamatnya.
"Nova..." Begitu melihatku mendekat, ketakutan Ken lenyap, berganti ekspresi berbinar manja. "Terima kasih sudah datang, sayang."
Tak jauh di sampingnya, 'Ilham' sedang bersandar di tiang koridor sambil mengagumi ketampanan wajahnya di layar ponsel. "Nova, tatapanku hari ini benar-benar tidak ada tandingannya, kan?" celoteh Ilham narsis seperti biasa.