"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh, sangat-sangat bodoh kau!"
Suara penjaga di kepalaku ini kini terdengar seperti seseorang yang sudah kusut, bergetar, dan tidak stabil kemarahannya. Aku bangun dengan perasaan bahwa gravitasi di rumah ini sedang berusaha menelanku. 'Lilis Bunga' sudah tidak lagi menyerang; dia sekarang tampak seperti patung lilin yang meleleh, menempel di sudut ruangan dengan cairan kental hitam yang menetes dari kelopaknya. Bau kematian dan data yang korup memenuhi udara.
Di lorong, 'Jek Alien' berdiri mematung. Matanya yang banyak itu tidak lagi berkedip. Dia hanya menatap dinding kosong, mulutnya bergumam tanpa suara tentang kode-kode yang tidak lagi masuk akal. Saat aku menabrak bahunya dengan sengaja, dia jatuh seperti manekin plastik yang patah. Tidak ada perlawanan. Sistem rumah ini sedang mengalami kerusakan sistemik karena tindakanku yang terus menghancurkan monster-monster ciptaan Likton.
Aku melenggang keluar rumah, mengabaikan boneka Tedi yang kepalanya kini berputar 360 derajat di atas rak sepatu. Dunia di luar tampak lebih redup, seolah-olah seseorang telah menurunkan tingkat kecerahan pada layar monitor raksasa yang membungkus langit Kota Simulasi.
'Sekolah: Keheningan Sebelum Badai'
Di sekolah, suasananya jauh lebih mencekam. Para NPC berjalan dengan gerakan yang terpatah-patah. Beberapa dari mereka hanya berdiri menghadap tembok, mengulang-ulang satu baris dialog yang sama: "Hari yang indah untuk belajar, hari yang indah untuk belajar."
Aku melihat timku sudah berkumpul di atap. 'Ken' menyambutku dan langsung menggandeng tanganku erat-erat, meski wajahnya tampak pucat dan tubuhnya bergetar panik melihat langit yang mulai retak. 'Ilham' berdiri di sampingnya, sibuk menyisir rambut sambil menatap layar ponselnya yang redup, mencoba mempertahankan gaya narsisnya di tengah kehancuran simulasi. 'Clara' memegang kunci dari Arfi erat-erat di saku roknya, seolah itu adalah satu-satunya jangkar kewarasannya. 'Sahsha' berdiri siaga di sampingku; dia tahu bahwa hari ini akan berbeda.
"Likton bilang obat ini narkoba," kataku sambil mengeluarkan botol pil ungu. "Tapi kalau ini narkoba, kenapa kita menjadi satu-satunya yang masih sadar di tengah dunia yang mulai gila ini?"
"Ayo pergi, Nova," bisik Clara. "Aku tidak tahan lagi melihat langit yang bergetar itu."
Kami berlima menelan pil itu secara bersamaan.
'ZHHHHP!'
Transisi kali ini terasa seperti jatuh ke dalam sumur tinta yang sangat dalam.
'Dimensi Perpustakaan: Dongeng yang Terputus'
Saat kami membuka mata, kami tidak berada di lorong gelap atau panti jompo. Kami berdiri di tengah sebuah perpustakaan raksasa yang tidak memiliki langit-langit—hanya ada tumpukan buku yang menjulang tinggi hingga hilang ke dalam kegelapan di atas sana. Bau kertas tua dan debu magis menyengat hidung.
"Perpustakaan?" bisik Ken sambil makin erat memeluk lenganku. "Tempat apa ini, Nova sayang?"
"Pencahayaan di sini buruk sekali untuk wajahku," celetuk Ilham narsis sambil mengusap sudut matanya di layar cermin ponsel.
"Bukan tempat bermain," kataku sambil melangkah menuju sebuah meja kayu besar di tengah ruangan. Di sana, sebuah buku terbuka lebar, seolah-olah sedang menunggu untuk dibaca.
Kami semua mendekat. Aku membacakan baris-baris tulisan di dalamnya:
> "Pada suatu hari, terdapat Raja Garuda yang menjatuhkan telurnya ke sarang ayam. Sang Garuda menetas dan tumbuh di antara para ayam, ia mematuk tanah dan berlari ketakutan, seolah-olah ia benar-benar seekor ayam. Lalu, terdapat putri manusia yang mencari yang berbeda dari antara semua, dan akhirnya..."