"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh, sangat-sangatlah go****!"
Suara penjagaku itu kini terdengar seperti jeritan amarah, yang memekakkan telinga lebih dari biasanya. Aku terbangun dengan rasa aneh di sekujur tubuhku. Aku melangkah menuju kamar mandi, mencoba membasuh wajahku yang terasa seperti porselen.
Namun, di balik tirai 'bathtub', 'Jek Alien' sudah menunggu.
Tidak ada lagi keraguan di matanya yang sekelilingnya banyak lubang itu. Dia bergerak seperti kilat perak, bayangan metalik yang haus darah. Sebuah belati menghujam di jantungku. Aku merasakan dingin yang luar biasa. Jek memutar belatinya, memutuskan sarafku dengan presisi seorang algojo. Pandanganku menggelap. Aku benar-benar mati dalam genangan darah di lantai ubin.
Tapi kegelapan itu hanya bertahan sedetik.
'BRAK!'
Aku membuka pintu kamar mandi. Jek berdiri di depanku, belatinya masih berlumuran dengan darahku yang segar dan tubuhku yang lama. Kemampuan 'Respond' dari Pengetahuan Agung; sistem secara otomatis menciptakan "tubuh baru" untukku agar narasi tidak terhenti di tengah jalan.
"Gagal lagi, Jek?" bisikku sambil berdiri dengan keanggunan seorang predator. "Kau tidak bisa membunuh sesuatu yang sudah tidak fana di dunia palsu ini."
Kemudian aku ke ruang tengah, mendapati semua 'keluarga'—Lilis Bunga dan Teddy Beruang—sedang menyiapkan pesta penyambutan kematianku dengan ceria, lebih mirip seperti pesta ulang tahun. Tapi semua itu gagal, aku tidak mati. Aku memperdulikannya, aku punya urusan yang lebih mendesak di sekolah.
'Dusta di Balik Pohon Beringin'
Di sekolah, atmosfer terasa sangat tipis, seolah-olah oksigen mulai ditarik keluar dari simulasi ini. Aku mencari 'Ken'. Aku ingin melihat wajah murung namun manja yang memuakkan itu, untuk memastikan bahwa setidaknya ada satu hal yang masih berjalan sesuai naskah. Namun, aku menemukannya di tempat yang tidak seharusnya.
Di belakang gudang olahraga, di bawah bayangan pohon yang meranggas, Ken sedang berdiri bersama gadis pirang yang kemarin kuancam. Aku bersembunyi di balik tumpukan kursi bekas. Mataku membelalak saat Ken membelai pipi gadis itu dengan lembut.
Tidak ada paksaan. Tidak ada sihir dari Likton. Ken mendekat dan mencium kening gadis itu dengan penuh kasih sayang—sebuah ciuman yang jauh lebih tulus dan hangat daripada semua sandiwara manja yang selalu dia berikan padaku selama ini. Dia benar-benar berselingkuh. Dia mengkhianati "Sang Ratu" demi seorang figuran tak bernama.
Amarahku meledak, tapi bukan amarah seorang kekasih yang patah hati. Ini adalah amarah seorang penguasa yang dikhianati bidaknya. Aku keluar dari persembunyian dengan tawa, kasar, dan melengking.
"Luar biasa! Benar-benar pertunjukan yang indah, Ayang!" teriakku sarkastis.
Ken tersentak, wajahnya pucat pasi seperti mayat. "Nova! Ini... ini tidak seperti yang kamu lihat! Dia hanya..."
"Diam, sampah!" aku berjalan ke lapangan, tempat para NPC dan murid-murid berkumpul seperti gerombolan domba. "DENGARKAN SEMUANYA!" suaraku menggema, memecah kesunyian sekolah. "Ken, idola penakutmu ini, baru saja melakukan pelecehan seksual! Dia berselingkuh dan memaksa gadis ini untuk melayaninya di tempat kotor ini!"
Aku menunjuk ke Ken dengan jari gemetar karena amarah murni. Aku ingin menghancurkan martabatnya sampai ke akar. "Siapa di antara kalian yang mau menggantikannya? Aku ingin punya 'Ayang' baru yang lebih patuh, yang lebih nyata, yang tidak berkhianat!"