Good morning, Nova: hard and the loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #10

Paradoks Kebebasan dan Labirin Cermin yang Retak

Aku bermimpi kembali bertemu dengan Deterlualis di perpustakaan yang abstrak, ia bermata empat sedang berbicara kepadaku. Pria itu menatap Nova dengan pandangan dingin. Ia melontarkan filosofi. "Cinta itu kebodohan murni," bisik Deterlualis, suaranya bergema. "Kehendak bebas hanyalah ilusi, dan seluruh jalan hidup manusia sudah dikunci oleh tujuannya. Manusia hanyalah pemimpin yang payah bagi bumi, dan satu-satunya jati diri murni manusia adalah saat ia masih menjadi bayi. Selebihnya, manusia tidak akan pernah bisa lari dari takdir: melahirkan, diajarkan, dipekerjakan, dinikahi demi keturunan, lalu dilempar ke akhirat untuk mendapat balasan surga atau neraka."

Nova menatap lurus empat mata di hadapannya tanpa rasa gentar, lalu membalas argumentasi itu dengan suara dingin dan tajam.

"Kehendak bebas itu nyata!" tegas Nova. "Dan akhirat itu hanyalah konsep rekaan! Tidak ada surga atau neraka setelah ini. Yang ada hanyalah dunia yang terus berulang melalui 'Big Bang' kedua, hancur menjadi kehampaan abadi, atau terpecah ke dalam retakan 'multiverse'!"

Deterlualis justru tersenyum ganjil. "Betapa menggemaskan ciptaanmu," bisik Deterlualis, "Kau berlari ke teori 'Big Bang', 'multiverse', dan siklus abadi agar tidak gila. Kau pikir jika dunia berulang dalam 'multiverse', kau memiliki pilihan berbeda? Tidak, Nova. 'Multiverse' hanyalah variasi dari cetakan yang sama. Jika di dunia ini kau adalah pelaku atau korban, di jutaan 'multiverse' lainnya kau tetaplah sama dirancang untuk menderita dengan cara yang berbeda."

Deterlualis melangkah maju membisikkan telinga Nova. "Bahkan pikiranmu yang menolak akhirat itu bukanlah kehendak bebasmu. Itu adalah mekanisme pertahanan diri dari ketakutan menghadapi penghakiman. Kau menyebut dirimu tuhan yang bebas, padahal rasa benci, ideologi, hingga teorimu tentang 'Big Bang' adalah hasil dari trauma, bacaan, dan lingkungan yang menjejali otakmu. Kau tidak pernah berpikir, Nova... kau hanya merespons seperti amuba. Kau tahanan jatuh cinta pada dinding penjaramu!"

Kata-kata itu melilit pikiran Nova bagai kawat berduri. Logika yang tidak masuk akal namun sekaligus mengunci jalannya itu membuat kepala Nova terasa berat dan mau pecah. Dan saat filosofi ganjil itu memuncak, mimpi itu runtuh.

Nova terbangun. Sensasi dari mimpi itu terasa sangat nyata.

"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh, benar-benar t**** luar biasa!"

"BTUUUM!"

"...hampir mirip seperti binatang!"

Suara bentakan dari kita sang 'penjaga' kini bukan lagi sekadar amarah seseorang, melainkan dentuman keras yang menggetarkan fondasi apartemen Clara. Aku terbangun di sofa, merasakan sisa hangat dari napas Clara yang tertidur di sampingku. Langit di luar jendela berwarna abu-abu statis yang bergetar. Kota simulasi ini bukan lagi sebuah kota yang utuh, melainkan potongan-potongan data yang tidak sempat diproses oleh server Dokter Likton.

Aku bangkit, merasakan tubuh baruku—hasil regenerasi setelah pembunuhan oleh Jek kemarin—terasa sedikit terlalu ringan, seolah-olah sistem mulai kehabisan material untuk membangun eksistensiku. Aku melihat tangan kananku; sesekali ia berkedip.

"Nova?" Clara terbangun, matanya masih membawa sisa-sisa emosi dari ciuman semalam. "Apakah ini hari terakhirnya?"

"Ini adalah hari di mana aku berhenti menjadi subjek," jawabku dingin. Aku mengenakan jaketku, menyembunyikan tangan yang berkedip itu. "Ayo. Kita butuh yang lain. Bahkan si pengkhianat Ken sekalipun."

Kami bergerak menuju sekolah yang kini tampak seperti reruntuhan digital. Di sana, Sahsha dan Ilham sudah menunggu dengan senjata. Ken berdiri di sudut, wajahnya hancur oleh rasa bersalah dan sangat ketakutan lebih dari biasa. Dia mencoba mendekatiku, ingin memohon ampun atas perselingkuhannya, tapi aku hanya mengangkat tangan, menghentikannya tanpa sepatah kata pun.

"Jangan bicara," perintahku datar. "Kau masih berguna sebagai umpan. Itu saja."

'Sekolah yang Menghakimi: Dimensi Kesembilan'

Lihat selengkapnya