Good morning, Nova: hard and the loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #12

Labirin Nafsu dan Penghianatan Sang Ratu

"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh, dosen gua dengan kebodahan kau!"

Suara dari penjagaku itu kini terdengar seperti gema dari seseorang yang sangat pendendam dan pemarah, di dunia lain yang sangat jauh, kuat dan hampir seolah-olah seperti suara bising statis yang memenuhi langit. Aku menganggap suara itu, dari penjaga aku itu, sudah seperti hal yang sangat biasa saja bagiku. Setelah konfrontasi di pintu apartemen, setelah Ken memberikan apa yang seharusnya menjadi kunci terakhir, aku tidak merasa lega. Sebaliknya, ada kekosongan besar yang menganga di dalam dadaku. Tubuhku sudah tidak berkedip lagi; aku merasa padat, nyata, namun sekaligus mati rasa.

Kami sampai di Dimensi Terakhir. Bukan sebuah perpustakaan, bukan sekolah, bukan pula rumah sakit. Dimensi ini adalah sebuah ruang hampa yang luas dengan lantai kaca yang memantulkan langit yang pecah. Di tengah-tengahnya, berdiri 'Monster Kesepuluh'.

'Monster Kesepuluh: Sutradara yang Menggila.'

Monster ini adalah 'Manifestasi Sang Sutradara'. Ia tidak memiliki bentuk monster yang menjijikkan; ia tampak seperti manekin raksasa yang dikendalikan oleh ribuan benang emas yang turun dari langit. Wajahnya terus berubah—terkadang menyerupai Dokter Likton, terkadang menyerupai Jek, dan terkadang menyerupai wajahku sendiri yang sedang menangis.

"Kau telah sampai di akhir naskah, Nova," suara monster itu mengguncang setiap atom di tubuhku. "Hancurkan aku, dan kau akan bebas dari skenario. Namun, kebebasan adalah beban yang tidak akan sanggup kau pikul."

Pertempuran itu terjadi dalam keheningan yang mematikan. Sahsha, Ken, dan Ilham mencoba menyerang, namun mereka terpental oleh gelombang data yang dikeluarkan sang monster. Hanya aku yang bisa mendekat. Dengan sisa energi Deterlualis yang membakar jiwaku, aku memecahkan kulit pipiku yang porselen itu satu per satu. Aku tidak menggunakan pedang; aku menggunakan jeroan dan daging-daging yang keluar dari pipiku untuk mencabik dan menusuk esensi dari monster tersebut.

Saat mata ke-tigaku terbuka di dahiku yang terbelah lalu kemudian dengan sangat mantap aku mengenai, menusuk, dan mencabik-cabik monster itu dengan sangat kejam dan keras, monster itu luruh menjadi debu digital. Cahaya yang sangat terang menelan seluruh dimensi, menghancurkan sisa-sisa dimensi yang mengurung kami. Kami menang. Dunia tidak lagi bergetar. Langit kembali membiru, meski itu adalah biru yang masih terasa dingin dan asing.

Retaknya Rasa di Menara Gading

Kami kembali ke dunia akademik—atau setidaknya, apa yang sekarang kami anggap sebagai dunia asli, tetapi sebenarnya adalah palsu, dunia simulasi buatan. Namun, kemenangan ini tidak terasa manis bagiku. Saat kami berdiri di balkon apartemen Clara, menyaksikan matahari terbenam yang pertama tanpa gangguan statis, Clara menggandeng tanganku dengan erat.

"Kita bebas, Nova," bisiknya dengan mata berkaca-kaca. "Kita bisa memulai semuanya dari awal. Hanya kita berdua. Tanpa naskah, tanpa Likton."

Aku menatap tangannya yang memegang jemariku. Tiba-tiba, rasa muak yang luar biasa muncul dari perutku. Ciuman di ambang kiamat itu, filosofi Bhinneka Tunggal Ika yang ia ucapkan, semuanya terasa seperti sampah yang menjijikkan. Aku melihat Clara bukan lagi sebagai penyelamat atau pasangan jiwa, melainkan sebagai rantai baru yang ingin mengikatku.

Lihat selengkapnya