"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."
Suara itu bukan berasal dari jam weker, bukan pula dari kicauan burung simulasi di balik jendela. Itu adalah suara pikiranku sendiri—atau mungkin sisa-sisa kesadaran yang tertinggal dari semalam. Aku membuka mata, menatap langit-langit kamar yang tampak terlalu putih, terlalu bersih, dan terlalu menyebalkan.
Aku bangkit dari tempat tidur dengan kepala yang berdenyut. Di sudut ruangan, Tedi—boneka beruang usang yang seharusnya menjadi simbol kedamaian masa kecil—duduk dengan leher yang sedikit miring. Matanya yang terbuat dari kancing hitam tampak berkilat, tidak lagi hangat, melainkan penuh dengan kebencian yang tertahan. Aku tahu, jika aku lengah sedikit saja, boneka itu akan mencoba menjerat leherku dengan benang-benang jahitan di tangannya.
"Coba saja kalau berani, Tedi," gumamku serak. Aku tidak peduli lagi.
Aku melangkah keluar kamar tanpa merapikan tempat tidur. Langkahku berat, diseret oleh rasa jenuh yang luar biasa terhadap rutinitas 'loop' ini. Di ruang tengah, aroma harum yang memualkan menyambutku. Itu adalah 'Lilis Bunga'. Sosok yang seharusnya menjadi ibuku itu kini tak lebih dari kumpulan kelopak bunga raksasa yang tumbuh dari kursi ruang tamu, dengan sulur-sulur hijau yang merambat di dinding.
Tanpa ragu, aku meraih vas bunga berbahan keramik di atas meja dan menghantamkannya ke salah satu tunas utama yang sedang mencoba merambat ke arah dapur.
'Krak!'
Cairan kental berwarna bening keluar dari batangnya yang patah. Lilis Bunga mengeluarkan suara desis seperti uap panas, kelopak-kelopaknya bergetar hebat menunjukkan rasa sakit yang tak bersuara. Aku tidak peduli. Aku benci keindahan palsu ini. Bagiku, bunga-bunga ini hanyalah rantai yang mencoba membungkus kewarasanku.
"Berisik," kataku ketus sambil melangkah menuju ruang kerja di belakang.
Di sana, 'Jek Alien' sedang membungkuk di depan meja laboratoriumnya. Sosok kakak laki-lakiku yang dulu normal kini memiliki kulit berwarna abu-abu metalik dengan tiga pasang mata yang berkedip tidak sinkron. Dia sedang meneliti mikroba dalam tabung reaksi, mencari cara untuk "menyempurnakan" data biologis di rumah ini.
"Jek, mikroba itu tidak nyata. Kau hanya meneliti piksel yang membusuk," aku menyenggol bahunya dengan kasar hingga mikroskopnya bergeser.
Jek menoleh, mata-matanya berputar-putar, menatapku dengan tatapan kosong yang mengancam. "Data harus akurat, Nova. Ayah meminta laporan pagi ini."
"Ayahmu itu gila, Jek. Dan kau hanya kacungnya," balasku sambil merampas sebotol cairan kimia dari mejanya, lalu menuangkannya begitu saja ke lantai.
Aku ingin melihat dunia ini berteriak. Aku ingin melihat 'Interior Reality' ini rusak karena kelakuanku. Namun, tidak ada yang berubah. Jek hanya kembali pada penelitiannya seolah-olah aku tidak pernah ada di sana. Aku adalah anomali yang mereka biarkan karena aku memiliki "Pengetahuan Agung" yang berdenyut di nadiku—sebuah kekuatan yang secara refleks melindungiku setiap kali Jek atau Tedi mencoba bertindak terlalu jauh.
Sudut Pandang Clara: Labirin di Lantai 12
Di tempat lain, di sebuah apartemen yang pengap oleh bau kertas tua dan kecemasan, Clara sedang gemetar.
Ia duduk di lantai, dikelilingi oleh ratusan lembar foto polaroid yang ditempel di dinding dengan benang merah yang saling silang. Clara yang sekarang bukan lagi gadis pemberani yang sering membentak orang. Ia adalah cermin dari ketakutan itu sendiri. Jari-jarinya yang kurus menelusuri sebuah catatan kecil tentang "Hukum Kekekalan Simulasi".
"Ini tidak benar... ini semua bohong," bisiknya dengan suara parau.