Good morning, Nova: hard and the loop

Pikri YAnor
Chapter #2

Gastronomi Trauma dan Mahkota yang Berduri

Duniaku tidak pernah benar-benar bersih. Di balik dinding asrama yang tampak steril dan senyum palsu para NPC, selalu ada aroma amis dari data yang membusuk.

Aku terbangun lagi. Pagi yang sama. "Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh." Suara itu makin akrab, makin dingin. Rutinitas adalah musuh utamaku. Aku bangkit, menendang Tedi yang mencoba merayap mendekati kakiku dengan gerakan patah-patah. Boneka sialan itu mengeluarkan suara 'ciit' yang menyedihkan saat tubuhnya menghantam dinding.

Lilis Bunga sudah menungguku di ruang tengah. Sulurnya hari ini lebih agresif, mencoba membelit gagang pintu kulkas. Tanpa bicara, aku mengambil korek api zippo dari sakuku, menyulut api kecil, dan membakar ujung daunnya. Bau rambut terbakar dan aroma melati busuk memenuhi ruangan. Dia menarik diri, berdesis kesakitan.

"Jangan sentuh makananku," gerutuku.

Aku berjalan ke laboratorium Jek. Kakak alienku itu sedang asyik membedah mikroba yang ukurannya sebesar kepalan tangan, mahluk transparan yang berdenyut-denyut. Aku sengaja menjatuhkan tumpukan buku tebal ke lantai tepat di samping telinganya yang bersisik. Jek tersentak, mata-matanya berputar liar. Aku tertawa pendek, sebuah tawa yang kering tanpa gairah, lalu melenggang pergi.

Di sekolah, pemandangan masih sama. Aku adalah "Ratu". Gadis-gadis NPC memuji sepatuku, para pria NPC berdiri mematung memberikan jalan. Aku berjalan di tengah koridor dengan tatapan cuek, mengunyah permen karet dengan suara keras. Di ujung koridor, aku melihat mereka. Tim-ku yang hancur.

Ilham berdiri di sana, sedang merapikan dasinya di depan kaca jendela, mengagumi pantulannya sendiri dengan senyum narsis yang memuakkan. Clara berdiri di pojok, memeluk tasnya erat-erat, matanya liar ketakutan menatap setiap orang yang lewat. Ken tampak lesu, bajunya kusut karena habis dipalak murid kelas satu tadi pagi. Dan Sahsha... dia berdiri mematung, tapi matanya bergerak mengikuti lalat yang terbang dengan kecepatan yang tak masuk akal.

"Dengar semuanya," kataku sambil berdiri di tengah lingkaran mereka. Suaraku rendah, penuh otoritas yang tak bisa dibantah. "Aku bosan dengan simulasi ini. Clara sudah melihat 'sisi lain' kemarin. Sekarang giliran kita semua."

Aku merogoh saku jaket hitamku. Aku mengeluarkan botol pil ungu yang aku curi dari lemari rahasia Dokter Likton pagi tadi. Pil 'Deterlualis'.

"Nova, apa kau gila? Kita bisa mati!" suara Clara melengking, penuh kecemasan.

"Kita sudah mati di dunia ini, Clara," balasku tajam. "Pilih: mau jadi manekin selamanya di sini, atau ikut aku melihat monster yang sebenarnya?"

Ilham menatap pil itu, lalu menatap wajahnya sendiri di pantulan botol. "Kalau ini bisa membuatku lebih dari sekadar karakter di sekolah bodoh ini, aku ikut."

Satu per satu, mereka mengambil pil itu. Kami menelannya secara bersamaan di tengah koridor sekolah yang ramai. Detik berikutnya, dunia seolah-olah diputar balik oleh tangan raksasa.

Dimensi Luka: Universitas Bayangan

Lihat selengkapnya