Good morning, Nova: hard and the loop

Pikri YAnor
Chapter #3

Panti Jompo yang Berduri dan Rahasia di Balik Selimut UKS

Dunia ini mulai merasa muak padaku.

"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh." Suara itu kini terdengar lebih parau, seolah-olah pita suara di dalam kepalaku mulai aus karena terlalu sering memutar kaset yang sama.

Aku bangun dan mendapati suasana rumah sudah mendingin secara harfiah. Tidak ada aroma melati busuk dari 'Lilis Bunga'. Sosok kelopak raksasa itu kini menguncup rapat, duri-durinya mencuat tajam dan bergetar setiap kali aku melintas. Dia tidak lagi mencoba membelitku; dia mencoba menjauh, seolah-olah kehadiranku adalah racun bagi sistem akarnya.

Di ruang tengah, 'Jek Alien' tidak lagi meneliti mikrobanya. Keenam matanya menatapku dengan kebencian yang murni. Cairan metalik menetes dari sela-sela giginya yang tajam. Saat aku sengaja menabrak meja laboratoriumnya, Jek tidak diam. Dia menggeram, sebuah suara ultrasonik yang membuat kaca jendela bergetar hebat.

"Kau... tidak seharusnya... ada di sini," desis Jek dengan suara mekanis yang rusak.

"Kalau begitu, hapus saja aku dari naskahmu, Jek," balasku sambil meludah ke lantai laboratoriumnya yang steril.

Bahkan Tedi, boneka beruang itu, sekarang duduk di atas lemari tinggi, memegang gunting bedah dengan tangan bulunya yang mungil. Dia hanya menatapku, menunggu momen ketika aku tertidur untuk merobek nadiku. Mereka semua risih. Mereka sadar bahwa aku bukan lagi "Nova" yang bisa mereka kontrol. Aku adalah anomali yang mulai merusak piksel demi piksel di rumah ini.

Pertemuan di UKS: Aref dan Kebenaran yang Dingin

Aku membolos jam pelajaran pertama. Pemujaan para NPC di koridor terasa makin hambar, seperti mengunyah kertas basah. Aku butuh tempat sepi, jadi aku menendang pintu UKS hingga terbuka.

Di sana, di ranjang paling ujung yang tertutup tirai putih, aku melihat seorang siswa. Dia tampan—terlalu tampan untuk ukuran NPC generik di sekolah ini. Garis rahangnya tegas, rambutnya hitam legam yang berantakan dengan cara yang estetik. Namanya 'Aref'. Dia sering muncul di latar belakang sebagai idola sekolah, tapi hari ini, dia tampak berbeda.

"Berisik sekali, Ratu Nova," gumamnya tanpa membuka mata.

Aku tidak menjawab. Aku naik ke atas ranjang yang sama, berbaring di sampingnya. Di dunia "Hard Mode" ini, aku tidak peduli lagi pada norma atau pandangan orang. Kami berbaring berdampingan, menatap langit-langit UKS yang berpendar pucat.

"Kau tahu, kan?" tanyaku tiba-tiba.

Aref membuka matanya. Matanya bukan mata NPC yang kosong; ada kedalaman yang menakutkan di sana. "Tahu apa? Tentang Dokter Likton yang bisa menghapus kenanganmu hanya dengan satu jentikan jari? Atau tentang kenyataan bahwa dunia ini hanyalah taman bermain bagi seorang ayah yang kesepian?"

Aku tersentak sedikit. "Dia... dia mengubah alur cerita. Seri pertama tidak seperti ini. Ilham bilang dia menulisnya, tapi aku merasa ada tangan yang lebih besar di atas Ilham."

Aref tertawa, suara tawanya terdengar seperti pecahan es. "Ilham itu hanya bidak yang merasa dirinya raja. Likton adalah Dewa, Nova. Dia bisa memutar balik waktu, mengubah jenis kelaminmu dalam ingatan orang lain, bahkan membuatmu percaya bahwa keluarga alienmu itu nyata. Dia bisa mengubah genre hidupmu dari komedi menjadi tragedi dalam satu malam."

"Aku tidak percaya," kataku ketus, meski jantungku berdegup kencang. "Kalau dia Dewa, kenapa dia membiarkanku menjadi nakal seperti ini? Kenapa dia tidak menghapusku?"

Lihat selengkapnya