Good morning, Nova: hard and the loop

Pikri YAnor
Chapter #4

Mahkota Kaca dan Hujat yang Menjelma

Pagi ini, "Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh," terdengar lebih seperti musik latar yang membosankan daripada sebuah ejekan.

Aku melangkah melewati ruang tengah dengan gaya yang lebih menantang. 'Lilis Bunga' tampak benar-benar tertekan; kelopaknya menghitam di bagian pinggir, dan dia menarik semua sulurnya ke atas plafon, seolah-olah lantai yang kupijak telah berubah menjadi bara api. Dia risih. Dia benci bagaimana aku menatapnya—bukan sebagai anak, tapi sebagai hama yang harus dibasmi.

Di dapur, 'Jek Alien' sedang menuangkan cairan neon ke dalam gelas. Saat aku lewat, dia sengaja menyenggol meja hingga cairannya tumpah. Aku tidak marah. Aku justru mengambil gelas itu dan menyiramkan sisanya ke wajah metaliknya yang dingin.

"Ups, tanganku refleks, Jek," kataku sambil tersenyum miring.

Jek mengeluarkan suara geraman statis yang menyakitkan telinga. Mata-matanya berputar cepat, memproses kemarahan yang tidak diizinkan oleh skenario Dokter Likton untuk diluapkan. Aku berjalan keluar, menendang pintu depan hingga engselnya berderit protes.

Sekolah: Sandiwara Kekasih Sang Dewa

Begitu aku menginjakkan kaki di sekolah, 'Ilham' sudah menungguku. Tapi ada yang berbeda. Dia tidak lagi berdiri kaku sebagai narsis yang sombong. Begitu melihatku, wajahnya berubah menjadi cerah—terlalu cerah.

"Nova-ku sayang! Kamu lama sekali!" Ilham berlari kecil dan langsung menggandeng lenganku.

Dia bersikap sangat manja. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku sambil berjalan menyusuri koridor, mengabaikan tatapan iri dan bingung dari para NPC. Ilham yang biasanya memuja dirinya sendiri, kini bertingkah seolah-olah aku adalah pusat gravitasinya.

"Kamu tahu tidak? Aku tadi menulis puisi tentang betapa cantiknya pantulanmu di mataku," bisiknya manja sambil mencubit pelan pipiku.

Aku merasa mual. Ini pasti bagian dari rencana Dokter Likton untuk mengujiku. Dia ingin melihat apakah aku akan luluh pada kasih sayang palsu ini. Aku hanya mendengus cuek, membiarkan Ilham terus meracau tentang betapa dia tidak bisa hidup tanpaku. Di dunia "Hard Mode" ini, Ilham yang manja adalah anomali yang paling menjijikkan.

Sudut Pandang Sahsha: Bayangan di Balik Ratu

Di sisi lain koridor, 'Sahsha' berdiri tegak seperti patung prajurit. Matanya yang tajam tidak pernah berhenti memindai area sekitarnya. Di sampingnya, 'Clara' menunduk dalam, memeluk buku-bukunya dengan tangan yang gemetar hebat.

Banyak murid NPC yang mencoba mendekati Clara untuk mengejeknya—melihat betapa rentannya dia di siklus kali ini adalah hiburan bagi sistem. Namun, sebelum satu pun hinaan keluar dari mulut mereka, Sahsha sudah berada di depan mereka.

'Sret!'

Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk mata manusia, Sahsha sudah menepis tangan seorang siswa yang hendak menarik tas Clara. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan dingin yang seolah berkata: 'Langkah selanjutnya adalah kematian.'

Sahsha tidak membully Clara. Meskipun semua orang di sekolah ini menganggap Clara adalah target empuk, Sahsha justru menjadi pelindung yang tak terlihat. Bukan karena dia merasa kasihan, tapi karena perintahku. Baginya, kata-kataku adalah hukum absolut.

"Nova bilang, kau adalah bagian dari tim. Tugasku adalah menjamin integritasmu," suara Sahsha datar, tanpa emosi, saat ia menyerahkan kembali pulpen Clara yang terjatuh.

Lihat selengkapnya