Good morning, Nova: hard and the loop

Pikri YAnor
Chapter #5

Topeng Cermin dan Saksi Bisu

"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."

Suara itu terdengar lebih tajam, seolah-olah sistem di dalam kepalaku mulai berkarat oleh kebencian yang menumpuk. Aku terbangun bukan karena matahari, melainkan karena getaran halus di bawah tempat tidurku. 'Tedi' kini tidak lagi bersembunyi. Boneka itu duduk di atas kursi meja belajarku, gunting bedah di tangannya terus beradu dengan logam, menciptakan ritme konstan yang memekakkan telinga.

Aku tidak membalas guntingan itu. Aku hanya bangkit, melemparkan bantal ke arahnya, dan berjalan menuju ruang tengah. 'Lilis Bunga' kini sudah tidak lagi mencoba menjauh. Dia tampak layu, kelopak-kelopaknya yang berwarna ungu tua berguguran di lantai, meninggalkan jejak lendir hitam yang berbau seperti tanah pekuburan. Dia tahu, aku sudah tidak lagi takut pada ancaman biologisnya. Setiap langkahku di atas kelopak yang berguguran itu terasa seperti menghancurkan sisa-sisa kesucian rumah ini.

Di dapur, 'Jek Alien' sedang sibuk dengan peralatan bedah. Dia tidak lagi menatapku dengan banyak mata; dia membelakangiku, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Aku sengaja menendang kaleng logam di dekat kakinya. Bunyinya memantul nyaring, tapi dia tidak menoleh. Dia hanya mengeluarkan suara gesekan logam dari tenggorokannya—sebuah tawa yang dipaksakan oleh sistem untuk menutupi rasa takutnya yang luar biasa terhadapku.

"Kau sangat berisik hari ini, Jek," kataku datar, lalu meraih roti tawar di meja tanpa menyapanya. Aku berjalan keluar rumah, meninggalkan kegilaan di balik pintu yang mulai retak karena tekanan sistem.

'Panggung Sandiwara di Koridor'

Sekolah terasa seperti sebuah teater yang dipaksakan. Begitu aku masuk ke gerbang, para NPC—murid-murid dengan senyum yang diprogram hingga ke urat syaraf—menyambutku dengan sorakan yang monoton. Namun, langkahku terhenti saat melihat pemandangan di dekat loker.

'Ilham'. Dia berdiri di sana, dikelilingi oleh gadis-gadis yang tidak kukenal. Mereka tampak berbisik-bisik, tawa mereka terdengar seperti lonceng perak yang sengaja dibuat untuk memancing kecemburuan. Salah satu gadis itu menggandeng lengan Ilham, membisikkan sesuatu di telinganya, dan Ilham merespons dengan tawa yang terlalu akrab.

Darahku mendidih, bukan karena cinta, melainkan karena drama yang dibangun sistem ini terlalu picik. Aku melangkah mendekat. Ilham menyadari kehadiranku, dan seketika itu juga dia melepaskan lengan gadis itu, wajahnya berubah menjadi topeng kepolosan yang manja.

"Nova! Kamu sudah datang?" sapanya, lalu dengan cepat berlari mendekat untuk merangkul bahuku.

Gadis itu menatapku dengan mata yang kosong—karena dia hanyalah program. Aku menatap lurus ke mata Ilham, tatapanku dingin sekeras baja. "Itu cuma teman kamu, kan? Bukan pacar kamu, kan... Ayang?"

Nada bicaraku dipenuhi dengan sarkasme yang tajam. Ilham tertegun sesaat, tapi dia segera menyesuaikan diri dengan peran yang diinginkan sistem. "Tentu saja, Nova! Apa yang kamu bicarakan? Dia cuma teman sekelasku, tidak lebih. Kamu kan tahu hanya kamu yang ada di mata aku, hanya kamu yang aku sayang."

Ilham membelai rambutku dengan gerakan yang sangat lembut, terlalu lembut hingga terasa seperti ada jarum di ujung jarinya. "Jangan marah, ya? Hanya kamu yang berhak ada di sampingku."

Aku menepis tangannya perlahan. "Ya sudah, kalau begitu jangan buat aku harus menghapus 'teman' kamu itu dari database sekolah ini."

Lihat selengkapnya