Good morning, Nova: hard and the loop

Pikri YAnor
Chapter #6

Racun di Atas Meja dan Bayangan di Balik Mahkota

"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."

Suara itu kini terdengar seperti mesin yang sedang sekarat, terbatuk-batuk di dalam gendang telingaku. Aku terbangun dengan rasa mual yang luar biasa, tapi bukan karena sakit. Aku mual karena udara di rumah ini sudah tidak lagi mengandung oksigen, melainkan kebencian murni.

Aku melangkah ke dapur dengan langkah gontai. Di atas meja makan, tersedia segelas susu putih yang tampak segar. Di sampingnya, 'Lilis Bunga' berdiri membeku, kelopak-kelopaknya yang layu bergetar hebat. Aku tahu ada sesuatu yang salah. Aroma susunya tidak amis, melainkan tajam seperti cairan pembersih lantai yang paling keras.

Aku menatap 'Jek Alien' yang berdiri di pojok ruangan. Dia tidak bergerak, tapi keenam matanya fokus menatap gelas itu. Aku tersenyum nakal. Tanpa ragu, aku meraih gelas itu dan meminumnya dalam sekali teguk.

Cairan itu terasa membakar tenggorokanku. Aku bisa merasakan organ dalamku seolah-olah sedang dicuci oleh asam yang sangat kuat. Namun, alih-alih muntah darah atau jatuh tersungkur, aku justru merasa... segar. Kekuatan 'Respond' dari Pengetahuan Agung di nadiku bekerja secara otomatis. Ia mengubah racun itu menjadi energi mentah yang memperkuat pulsasi cahaya ungu di pergelangan tanganku.

Aku membanting gelas kosong itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

"Rasanya agak kurang manis, Jek," kataku sambil menyeka bibirku. "Lain kali, pakai sianida yang lebih mahal."

Jek mengeluarkan suara pekikan statis yang memilukan. Dia risih. Dia sangat ingin aku mati, tapi sistem Dokter Likton tidak mengizinkan subjek utamanya hancur sebelum bab terakhir. Aku berjalan keluar rumah dengan tawa yang lebih mirip suara retakan kaca, meninggalkan "keluargaku" yang kini benar-benar ketakutan padaku.

Sekolah: Fragmen Memori dan Luka Ilham

Di koridor sekolah, aku melihat 'Ilham' sedang berdiri menyendiri di bawah bayangan pohon beringin tua. Dia tidak narsis hari ini. Dia tampak gelisah, jari-jarinya terus memainkan ujung dasinya. Saat aku mendekat, memori tentang "Versi Ilham" di seri pertama mendadak menghantam kepalaku seperti palu.

Aku teringat saat-saat pertama kami bertemu. Saat itu, dunianya sedang runtuh. Ilham terjebak dalam pusaran fitnah dan kenyataan pahit; dia dituduh terlibat dalam kasus pelecehan seksual dan pedofilia yang melibatkan salah satu adik kelas. Seluruh sekolah menghujatnya. Namanya dicoret dari segala prestasi. Dia hampir memutuskan untuk menghilang dari simulasi ini selamanya.

Tapi aku ada di sana. Aku, Nova—atau siapa pun aku saat itu—menggunakan sisa-sisa "kewarasan" untuk membongkar bahwa kasus itu adalah jebakan yang dirancang untuk menjatuhkannya. Aku menyelamatkannya dari kehancuran martabat. Dan sejak hari itu, kami jadian. Itu adalah alasan kenapa Ilham begitu manja dan bergantung padaku di siklus "Hard Mode" ini. Dia mencintaiku bukan hanya sebagai kekasih, tapi sebagai juru selamatnya.

"Nova..." Ilham menoleh, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih sudah datang."

Aku menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di satu sisi, aku merasa kasihan. Di sisi lain, aku tahu perasaan ini adalah bagian dari naskah Dokter Likton untuk mengikatku secara emosional.

"Jangan bahas masa lalu, Ilham," kataku cuekan. "Kita punya monster yang harus dibunuh hari ini."

Lihat selengkapnya