"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."
Suara itu terdengar lebih berat hari ini, seolah-olah mesin penyambung kesadaranku mulai lelah menopang kepalsuan dunia ini. Aku terbangun dan mendapati rumah dalam kondisi hening yang mencekam. 'Lilis Bunga' kini tidak lagi berwarna ungu; kelopaknya memutih seperti tulang, dan seluruh sudut rumah dipenuhi dengan spora yang bertebaran di udara, mencoba masuk ke paru-paruku. 'Jek Alien' tidak ada di dapur; dia mungkin sedang bersembunyi di ruang bawah tanah, menyusun strategi untuk menghancurkanku di saat aku lengah.
Aku berjalan menuju ruang kerja Dokter Likton. Pintu ruangannya terbuka sedikit. Dia sedang duduk di balik meja mahoni yang besar, menyesap kopi yang uapnya mengepul membentuk pola-pola aneh di udara.
"Nova," suaranya tenang, otoriter, dan penuh kasih sayang yang memuakkan. "Duduklah."
Aku duduk, menatapnya tanpa emosi. Likton meletakkan sebuah file di meja. Di dalamnya terdapat foto-foto botol pil ungu yang selalu aku curi dan konsumsi.
"Itu adalah narkoba, Nova," katanya datar. "Obat-obatan terlarang yang kau dapatkan entah dari mana. Itu menyebabkan halusinasi, delusi tentang monster, dan pemberontakan yang tidak rasional. Aku mencoba menolongmu, tapi kau justru semakin liar. Serahkan sisanya padaku, dan aku akan mengembalikan dunia ini menjadi tempat yang damai untukmu."
Aku menatapnya tajam. Apakah itu kebenaran? Ataukah itu hanya lapisan kebohongan lain untuk membuatku kembali patuh menjadi "Nova" yang puitis dan penurut?
"Jika itu narkoba, Ayah," kataku sambil tersenyum miring, "kenapa kau tidak menghapusku saja? Kenapa kau tidak menggunakan kekuatan Dewa-mu untuk membuang semua 'sampah' ini?"
Likton terdiam. Matanya yang dingin menatapku seolah dia sedang menimbang-nimbang apakah aku sudah tidak berguna lagi untuk ceritanya. "Kau adalah karya seni yang paling sulit diatur, Nova. Tapi setiap karya seni membutuhkan penderitaan agar bisa mencapai kesempurnaan."
Aku berdiri dan meludah di depan mejanya. "Cerita ini bukan milikmu, Likton. Ini milikku."
Cemburu yang Gelap
Di sekolah, suasana terasa sesak. Para NPC bergerak dengan ritme yang lambat, seolah-olah sistem sedang mengalami 'lag'. Aku melihat Ilham di koridor, sedang dikerumuni oleh siswi-siswi lain—sekelompok gadis populer yang mencoba menarik perhatiannya dengan tawa centil.
Ilham tampak risih, tapi dia mencoba tetap bersikap ramah. Salah satu gadis itu, seorang siswi dengan rambut pirang panjang yang selalu merasa dirinya pusat dunia, mendekati Ilham dan mencoba menyentuh lengannya.
Aku berdiri di kejauhan, tersembunyi di balik pilar. Rasa cemburu itu muncul, bukan karena rasa sayang, tapi karena kepemilikan. Ilham adalah bidakku dalam cerita ini, juru selamatku di masa lalu, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.
Aku berjalan perlahan, langkahku tanpa suara. Saat gadis itu tertawa dan mencoba memajukan wajahnya ke arah Ilham, aku menarik rambutnya dari belakang dengan sangat kuat hingga dia terhuyung ke arah loker.
"Jauhi dia," bisikku di telinganya. Suaraku sedingin es. "Jika kau mendekatinya lagi, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat dunia ini lagi. Aku akan merobek setiap memori yang kau miliki tentang sekolah ini."