"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."
Suara di kepalaku kini terdengar seperti rekaman kaset yang sudah kusut, bergetar dan tidak stabil. Aku bangun dengan perasaan bahwa gravitasi di rumah ini sedang berusaha menelanku. **Lilis Bunga** sudah tidak lagi menyerang; dia sekarang tampak seperti patung lilin yang meleleh, menempel di sudut ruangan dengan cairan kental hitam yang menetes dari kelopaknya. Bau kematian dan data yang korup memenuhi udara.
Di lorong, 'Jek Alien' berdiri mematung. Matanya yang banyak itu tidak lagi berkedip. Dia hanya menatap dinding kosong, mulutnya bergumam tanpa suara tentang kode-kode yang tidak lagi masuk akal. Saat aku menabrak bahunya dengan sengaja, dia jatuh seperti manekin plastik yang patah. Tidak ada perlawanan. Sistem rumah ini sedang mengalami kerusakan sistemik karena tindakanku yang terus menghancurkan monster-monster ciptaan Likton.
Aku melenggang keluar rumah, mengabaikan boneka Tedi yang kepalanya kini berputar 360 derajat di atas rak sepatu. Dunia di luar tampak lebih redup, seolah-olah seseorang telah menurunkan tingkat kecerahan pada layar monitor raksasa yang membungkus langit Jakarta.
Sekolah: Keheningan Sebelum Badai
Di sekolah, suasananya jauh lebih mencekam. Para NPC berjalan dengan gerakan yang terpatah-patah. Beberapa dari mereka hanya berdiri menghadap tembok, mengulang-ulang satu baris dialog yang sama: "Hari yang indah untuk belajar, hari yang indah untuk belajar."
Aku melihat tim-ku sudah berkumpul di atap. 'Ilham' tidak lagi manja; dia tampak pucat, cermin di tubuhnya retak di beberapa bagian. 'Clara' memegang kunci dari Aref erat-erat di saku roknya, seolah itu adalah satu-satunya jangkar kewarasannya. 'Ken' dan 'Sahsha' berdiri siaga, mereka tahu bahwa hari ini akan berbeda.
"Likton bilang obat ini narkoba," kataku sambil mengeluarkan botol pil ungu. "Tapi kalau ini narkoba, kenapa kita menjadi satu-satunya yang masih sadar di tengah dunia yang mulai gila ini?"
"Ayo pergi, Nova," bisik Clara. "Aku tidak tahan lagi melihat langit yang bergetar itu."
Kami menelan pil itu secara bersamaan.
'ZHHHHP!'
Transisi kali ini terasa seperti jatuh ke dalam sumur tinta yang sangat dalam.
Dimensi Perpustakaan: Dongeng yang Terputus
Saat kami membuka mata, kami tidak berada di lorong gelap atau panti jompo. Kami berdiri di tengah sebuah perpustakaan raksasa yang tidak memiliki langit-langit—hanya ada tumpukan buku yang menjulang tinggi hingga hilang ke dalam kegelapan di atas sana. Bau kertas tua dan debu magis menyengat hidung.
"Perpustakaan?" Ilham mengerutkan kening. "Apa monsternya adalah pustakawan galak?"
"Bukan," kataku sambil melangkah menuju sebuah meja kayu besar di tengah ruangan. Di sana, sebuah buku terbuka lebar, seolah-olah sedang menunggu untuk dibaca.
Kami semua mendekat. Aku membacakan baris-baris tulisan di dalamnya: