"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."
Suara itu kini terdengar seperti jeritan logam yang saling beradu, memekakkan telinga lebih dari biasanya. Aku terbangun dengan rasa sakit yang aneh di sekujur tubuhku, seolah-olah setiap inci kulitku baru saja dijahit ulang secara kasar. Aku melangkah menuju kamar mandi, mencoba membasuh wajahku yang terasa kaku seperti topeng porselen.
Namun, di balik tirai 'bathtub', 'Jek Alien' sudah menunggu.
Tidak ada lagi keraguan di mata-matanya yang banyak itu. Dia bergerak seperti kilat perak, sebuah bayangan metalik yang haus darah. Sebuah belati bedah yang dilapisi cairan asam neon menghujam tepat di jantungku. Aku merasakan dingin yang luar biasa, lalu panas yang menghanguskan saat asam itu mulai melarutkan dagingku. Jek memutar belatinya, memutuskan urat-urat kehidupanku dengan presisi seorang algojo. Pandanganku menggelap. Aku mati. Benar-benar mati dalam genangan darah di lantai ubin yang dingin.
Tapi kegelapan itu hanya bertahan sedetik.
'ZAP!'
Aku tersentak bangun di atas lantai kamar mandi yang basah. Jek berdiri di depanku, belatinya masih berlumuran darah—darahku yang segar. Tapi aku berdiri di hadapannya dengan tubuh yang utuh, tanpa luka sedikit pun. Kemampuan 'Respond' dari Pengetahuan Agung telah memicu regenerasi instan; sistem secara otomatis menciptakan "tubuh baru" untukku agar narasi tidak terhenti di tengah jalan.
"Gagal lagi, Jek?" bisikku sambil bangkit berdiri dengan keanggunan seorang predator. Aku mencengkeram leher metaliknya dengan satu tangan, merasakan logam dingin itu bergetar. "Kau tidak bisa membunuh sesuatu yang sudah tidak memiliki jiwa di dunia palsu ini."
Jek meronta, mengeluarkan suara statis yang menyayat hati, sebelum aku melemparnya keluar jendela kamar mandi hingga terdengar bunyi dentuman keras di bawah sana. Aku tidak peduli apakah dia hancur. Aku punya urusan yang jauh lebih mendesak di sekolah.
Dusta di Balik Pohon Beringin
Di sekolah, atmosfer terasa sangat tipis, seolah-olah oksigen mulai ditarik keluar dari simulasi ini. Aku mencari 'Ilham'. Aku ingin melihat wajah manja yang memuakkan itu untuk memastikan bahwa setidaknya ada satu hal yang masih berjalan sesuai naskah. Namun, aku menemukannya di tempat yang tidak seharusnya.
Di belakang gudang olahraga, di bawah bayangan pohon yang meranggas, Ilham sedang berdiri bersama gadis pirang yang kemarin kuancam. Aku bersembunyi di balik tumpukan kursi bekas, menahan napas. Mataku membelalak saat melihat Ilham membelai pipi gadis itu dengan lembut.
Tidak ada paksaan. Tidak ada sihir dari Likton. Ilham mendekat dan mencium kening gadis itu dengan penuh kasih sayang—sebuah ciuman yang jauh lebih tulus dan hangat daripada semua sandiwara manja yang selalu dia berikan padaku selama ini. Dia benar-benar berselingkuh. Dia mengkhianati "Sang Ratu" demi seorang figuran tak bernama.
Amarahku meledak, tapi bukan amarah seorang kekasih yang patah hati. Ini adalah amarah seorang penguasa yang dikhianati bidaknya. Aku keluar dari persembunyian dengan tawa yang keras, kasar, dan melengking.
"Luar biasa! Benar-benar pertunjukan yang indah, Ayang!" teriakku sarkastis.
Ilham tersentak, wajahnya pucat pasi seperti mayat. "Nova! Ini... ini tidak seperti yang kamu lihat! Dia hanya..."
"Diam, sampah!" aku berjalan menuju tengah lapangan, tempat para NPC dan murid-murid berkumpul seperti gerombolan domba. "DENGARKAN SEMUANYA!" suaraku menggema, memecah kesunyian sekolah. "Ilham, idola narsismu ini, baru saja melakukan pelecehan seksual! Dia berselingkuh dan memaksa gadis ini untuk melayaninya di tempat kotor ini!"
Aku menunjuk ke arah Ilham dengan jari yang gemetar karena amarah murni. Aku ingin menghancurkan martabatnya sampai ke akar. "Siapa di antara kalian yang mau menggantikannya? Aku ingin punya 'Ayang' baru yang lebih patuh, yang lebih nyata, yang tidak berkhianat!"