Good morning, Nova: hard and the loop

Pikri YAnor
Chapter #10

Paradoks Kebebasan dan Labirin Cermin yang Retak

"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."

Suara itu kini bukan lagi sekadar bisikan, melainkan dentuman yang mengguncang fondasi apartemen Clara. Aku terbangun di sofa, merasakan sisa hangat dari napas Clara yang tertidur di sampingku. Langit di luar jendela kini benar-benar telah menyerah; warna abu-abu itu digantikan oleh kehampaan statis yang bergetar. Jakarta bukan lagi sebuah kota, melainkan potongan-potongan data yang tidak sempat diproses oleh server Dokter Likton.

Aku bangkit, merasakan tubuh baruku—hasil regenerasi setelah pembunuhan oleh Jek kemarin—terasa sedikit terlalu ringan, seolah-olah sistem mulai kehabisan material untuk membangun eksistensiku. Aku melihat tangan kananku; sesekali ia berkedip, menjadi transparan dan memperlihatkan barisan kode ungu yang mengalir cepat.

"Nova?" Clara terbangun, matanya masih membawa sisa-sisa emosi dari ciuman semalam. "Apakah ini hari terakhirnya?"

"Ini adalah hari di mana aku berhenti menjadi subjek," jawabku dingin. Aku mengenakan jaketku, menyembunyikan tangan yang berkedip itu. "Ayo. Kita butuh yang lain. Bahkan si pengkhianat Ilham sekalipun."

Kami bergerak menuju sekolah yang kini tampak seperti reruntuhan digital. Di sana, Sahsha dan Ken sudah menunggu dengan senjata terhunus. Ilham berdiri di sudut, wajahnya hancur oleh rasa bersalah dan ketakutan. Dia mencoba mendekatiku, mungkin ingin memohon ampun atas perselingkuhannya, tapi aku hanya mengangkat tangan, menghentikannya tanpa sepatah kata pun.

"Jangan bicara," perintahku. "Kau masih berguna sebagai umpan. Itu saja."

Sekolah yang Menghakimi: Dimensi Kesembilan

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki kami terbelah. Bukan jatuh ke dalam tanah, kami justru tersedot ke atas, ke dalam sebuah pusaran awan hitam yang terbuat dari ribuan pasang mata yang menatap benci.

Kami mendarat di sebuah versi sekolah yang terdistorsi. Dindingnya terbuat dari lidah-lidah manusia yang terus menjulur, membisikkan makian dan tuduhan. "Pelaku! Penjahat! Pembohong!" Suara-suara itu adalah proyeksi dari kebencian para NPC yang kemarin menuduhku di lapangan.

Lalu, 'Monster Kesembilan' muncul dari tumpukan lidah tersebut.

Ia tidak memiliki wajah tetap. Ia adalah massa yang terdiri dari ribuan cermin yang saling memantulkan wajah kami, namun dalam versi yang paling buruk. Di tengah-tengah massa cermin itu, terdapat sebuah mulut besar yang terus mengeluarkan asap hitam. Ini adalah 'Monster Penghakiman Massa'. Ia hidup dari persepsi orang lain, dari fitnah yang dianggap benar, dan dari penghancuran karakter yang dilakukan secara kolektif.

"Lihat dirimu, Nova," monster itu bicara dengan suara yang mirip dengan gabungan seluruh siswa di sekolah. "Kau menyebut dirimu penyelamat, tapi kau adalah diktator kecil yang haus kekuasaan. Kau tidak lebih baik dari Likton."

Cermin-cermin itu mulai menembakkan sinar laser yang memaksa kami melihat dosa-dosa kami. 'Ken' melihat dirinya sebagai perundung yang selama ini dia benci. 'Ilham' melihat dirinya sebagai sampah yang tak punya harga diri. 'Clara' melihat dirinya sebagai beban yang hanya bisa bergantung pada orang lain.

Lihat selengkapnya