"Selamat pagi, Nova. Dasar kau bodoh."
Suara itu kini terdengar seperti rintihan sirkuit yang terbakar, memuakkan dan pecah. Aku terbangun bukan oleh sinar matahari, melainkan oleh getaran aneh di lantai kamarku yang terasa seperti detak jantung mesin raksasa. Pagi ini, rutinitas terasa sangat berat. Aku bangkit dengan kepala yang berdenyut hebat, mencoba berjalan menuju dapur untuk sekadar melihat 'Lilis Bunga' atau menghina 'Jek Alien' seperti biasanya. Aku butuh rasa normal yang palsu itu untuk menenangkan badai yang berkecamuk di dalam dadaku.
Namun, saat aku sampai di ambang pintu dapur, suasana terasa berbeda. Tidak ada bau kopi atau aroma cairan pembersih lantai yang tajam. Yang ada hanyalah bau logam terbakar dan keheningan yang mengancam, seolah-olah seluruh rumah ini sedang menahan napas.
'Jek Alien' berdiri di tengah ruangan, tangannya yang mekanik memegang sebuah alat bedah laser yang biasanya tersimpan di laboratorium bawah tanah milik Dokter Likton. Di sampingnya, 'Lilis Bunga' tidak lagi layu; kelopak-kelopaknya berdiri tegak, tajam seperti pisau cukur, dan mengeluarkan suara desisan seperti ular yang lapar.
"Waktunya perbaikan, Nova," suara Jek terdengar berlapis, seolah-olah ribuan frekuensi radio berbicara secara bersamaan di dalam kepalaku. "Ayah bilang tubuhmu mengalami malfungsi sistemik. Kami harus mengotak-atik isinya. Kami harus melihat apa yang salah di dalam sana agar kau kembali menjadi anak yang manis."
"Mundur, rongsokan," geramku, Pengetahuan Agung-ku mulai berdenyut panas di pergelangan tangan, meski rasanya tidak stabil.
Namun, mereka tidak takut. Mereka bukan lagi NPC pajangan yang bisa kugertak dengan kata-kata puitis. Keluarga halusinasi ini sedang melancarkan balas dendam atas semua penghinaan yang kuberikan. Lilis Bunga melesat ke arahku, akar-akarnya yang berduri mencoba melilit kakiku, sementara Jek menerjang dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mencoba menancapkan alat bedahnya ke saraf leherku untuk mematikan sistem kesadaranku.
"Kalian ingin melihat isinya?!" teriakku murka. Aku menghantamkan tinjuku ke lantai, melepaskan gelombang Deterlualis yang mementalkan mereka ke dinding hingga retak.
Aku tidak menunggu mereka bangkit. Aku tahu ini adalah jebakan yang sudah dirancang Likton. Mereka ingin menculikku, membawaku kembali ke meja operasi untuk "dikalibrasi ulang"—atau lebih tepatnya, menghapus kepribadianku. Aku berlari menuju pintu depan, namun pintunya terkunci oleh kode biner yang terus berubah dengan cepat. Dengan sisa tenaga, aku menghantam kaca jendela ruang tamu hingga hancur berkeping-keping dan melompat keluar dari lantai dua, mendarat di atas aspal dengan guncangan yang membuat tubuh baruku terasa hampir hancur.
'Pelarian ke Menara Kaca'
Aku berlari menembus jalanan yang kini sudah tidak berbentuk lagi. NPC di sekelilingku hanya berupa siluet abu-abu tanpa wajah yang bergerak patah-patah. Pikiranku hanya tertuju pada satu tempat: Apartemen Clara. Hanya di sana, di tempat yang penuh dengan distorsi itu, aku merasa memiliki sedikit kendali.
Dengan napas tersengal dan tubuh yang mulai berkedip-kedip transparan karena kelelahan sistem, aku sampai di depan pintu unit Clara. Aku tidak mengetuk; aku langsung masuk menggunakan kunci cadangan perak yang berharga itu.
"Nova?!" Clara bangkit dari tempat tidurnya, matanya membelalak melihat kondisiku yang sangat berantakan, baju yang robek, dan luka goresan di bahu yang mengeluarkan cahaya ungu redup alih-alih darah manusia. "Apa yang terjadi? Kenapa kau... kau terlihat seperti akan menghilang dari dunia ini?"