Dunia tidak berakhir dengan ledakan besar, melainkan dengan rintihan sunyi di sebuah lorong hotel yang pengap.
Semua kebohongan yang kubangun dengan rapi—setiap perselingkuhan, setiap ciuman yang kuberikan pada orang asing di kelab malam, setiap kata manis yang kulempar untuk menipu Clara—semuanya kembali padaku seperti bumerang yang dilapisi duri besi. Aku berdiri di depan pintu kamar hotel nomor 404, angka yang sangat cocok untuk menggambarkan kondisiku: 'Error. Not Found.'
Pria yang baru saja menendangku keluar adalah sosok yang kusebut sebagai "Ayang" baru. Pria dengan rahang tegas dan wangi parfum mahal yang ternyata palsu. Namanya—jika itu memang nama aslinya—hanya menginginkan satu hal dariku: akses. Dia mengira aku adalah kunci menuju kekayaan Dokter Likton atau setidaknya "properti" berharga yang bisa ia pamerkan untuk mendongkrak statusnya.
"Kau pikir aku benar-benar sudi menampung parasit sepertimu?" suaranya masih terngiang di telingaku, kasar dan penuh hinaan. "Kau itu cuma 'maokondo'. Kau hanya modal tampang Nova yang cantik tapi otakmu kosong. Sekarang setelah kau tidak punya apa-apa, buat apa aku bersamamu? Pergi sana, cari Clara-mu yang malang itu!"
Aku berjalan menyusuri koridor dengan kaki gemetar. Harga diriku yang setinggi langit kini hancur berkeping-keping di bawah tumit sepatuku sendiri. Aku telah membuang emas demi mencari sampah yang berkilau.
Konfrontasi Terakhir di Apartemen
Aku tidak punya tempat lain untuk pergi. Dengan sisa keberanian yang kupaksakan, aku kembali ke apartemen Clara. Aku berharap menemukan pintu yang terbuka, atau setidaknya satu kesempatan lagi untuk berbohong. Tapi yang kutemukan adalah realitas yang jauh lebih menyakitkan daripada pukulan Jek Alien.
Clara berdiri di ruang tamu. Lampu utama dimatikan, hanya lampu meja kecil yang menerangi wajahnya yang sembab. Di atas meja, ponselku tergeletak terbuka. Semua pesan singkat, foto-foto rahasia, dan bukti pengkhianatanku terpampang nyata di sana.
"Kenapa, Nova?" tanya Clara. Suaranya pecah, seolah pita suaranya sudah lelah menangis. "Kenapa kau harus melakukan ini setelah semua yang kita lalui? Setelah kita mengalahkan monster-monster itu bersama?"
"Aku... aku hanya ingin merasa bebas, Clara," jawabku, tapi suaraku terdengar lemah, bahkan di telingaku sendiri.
"Bebas?" Clara tertawa pahit. "Bebas dengan berselingkuh dengan pria-pria yang bahkan tidak tahu warna matamu yang sebenarnya? Kau menyebut itu kebebasan? Itu bukan kebebasan, Nova. Itu adalah penghancuran diri!"
Clara melangkah maju, menatapku dengan tatapan yang mencampuradukkan rasa benci dan iba. "Aku mencintaimu meski dunia ini palsu. Aku mencintaimu saat kau tidak punya siapa-siapa. Tapi kau... kau justru menusukku tepat di jantung saat aku sedang menjahit luka-lukamu."