Good morning, Nova: hard and the loop

Pikri YAnor
Chapter #14

Simulasi yang Pecah dan Realitas yang Pahit

Terjun dari lantai enam puluh tidak terasa seperti kematian. Rasanya seperti ditarik paksa melalui kabel serat optik yang sempit, di mana setiap inci kulit "Nova" dikuliti oleh algoritma sistem yang sedang sekarat. Cahaya ungu meledak, bising statis memekakkan telinga, dan dalam satu sentakan hebat—semuanya menjadi gelap.

Sunyi.

Lalu, bunyi detak jam dinding yang monoton mulai terdengar. Bau apek dari tumpukan baju kotor dan aroma mi instan sisa semalam merayap masuk ke indra penciumanku. Mataku terbuka perlahan. Cahaya yang masuk bukan lagi ungu atau merah statis, melainkan cahaya putih pucat dari lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit kamar yang sempit.

Aku tidak lagi berada di atap gedung. Aku berada di atas kursi 'gaming' yang busanya sudah kempes. Di depanku, dua monitor besar menyala terang, menampilkan antarmuka aplikasi simulasi tingkat tinggi yang sudah tertutup paksa. Di sudut kanan bawah layar, sebuah avatar "Nova" yang cantik, sombong, dan otoriter tampak membeku dengan tulisan merah besar: 'DISCONNECTED'.

Aku menghela napas panjang, tanganku gemetar saat melepas 'headset' VR yang terasa panas di kepala. Aku meraba wajahku. Tidak ada kulit porselen. Tidak ada rambut panjang yang halus. Yang ada hanyalah rahang yang kasar, kumis tipis yang belum dicukur, dan wajah lelah seorang laki-laki bernama 'Arfi'.

"Nova sudah mati," gumamku dengan suara bariton yang serak. Suara asliku.

Di layar monitor sebelah kiri, sebuah jendela panggilan video masih aktif. Di sana, seorang pria dengan rambut dicat biru dan wajah yang sangat manis sedang menatapku dengan cemas. Itu 'Kei', pacarku. Dia adalah sosok di balik karakter yang selama ini kukira adalah bagian dari naskah Likton, tapi sebenarnya dia hanyalah pemain lain di luar sana yang sedang menemaniku bermain peran.

"Arfi? Kamu oke? Tadi koneksinya putus tiba-tiba," suara Kei terdengar melalui speaker. "Kamu terlalu lama ada di dalam mode 'immersion'. Kamu tadi benar-benar terlihat seperti mau lompat dari gedung itu."

Aku menatap Kei. Dalam dunia simulasi, aku mengkhianati Clara. Di dunia nyata, aku sedang "coll" atau berkolaborasi dalam proyek novel interaktif ini bersama Kei. Kami sama-sama laki-laki, tapi di dalam sana, aku memakai karakter Nova—perempuan yang kusebut sebagai manifestasi dari segala keinginanku yang menyimpang dan ambisius.

"Aku oke, Kei. Cuma... dunianya terasa terlalu nyata tadi," jawabku sambil memijat pelipis. "Perselingkuhan itu, rasa sakitnya, si 'maokondo' itu... semuanya terasa seperti menusuk jantungku sendiri."

Kei tersenyum tipis, ada kilat sedih di matanya. "Itu cuma skenario, Sayang. Jangan dibawa ke dunia kita. Ingat, besok kita harus kirim 'update' bab ini ke penerbit."

Panggilan dari Masa Lalu

Aku mematikan panggilan dengan Kei. Perasaanku masih tidak karuan. Aku merasa seperti pengkhianat, meski semua itu terjadi dalam data digital. Untuk mencari sedikit kewarasan, aku meraih ponsel di meja—ponsel nyata, yang layarnya retak di sudut kiri bawah.

Aku membuka aplikasi pesan dan mencari kontak 'Ilham'. Dia bukan NPC. Ilham adalah teman sesama penulis novelis yang sering memberikan ide-ide gila untuk proyek "Nova Nebula" dan "Jakarta Ziro" milikku. Dialah yang mengusulkan karakter Ilham di dalam simulasi sebagai bentuk *self-insert* yang sarkastik.

> 'Arfi:' "Ham, simulasinya baru saja tamat. Gila. Karakter lu di dalam sana beneran jadi bajingan."

>

> 'Ilham:' "Hahaha! Bukannya emang itu tujuannya? Biar Nova ngerasa hancur? Eh, lu udah kelar revisi bab terakhir belum? Editor nungguin."

Aku tidak membalas. Aku melempar ponsel itu ke kasur. Ternyata semua penderitaan, monster-monster, dan pengkhianatan itu hanyalah hasil dari otak-otak novelis yang haus drama. Tapi kenapa rasanya masih ada yang mengganjal di dadaku? Kenapa aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang tertinggal di dalam sana?

Lihat selengkapnya