"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"
Suara kita yaitu sang 'penjaga' di dalam kepalaku itu, terdengar lebih merayap seperti kalajengking ke gendang telingaku sekarang, berpadu dengan aroma karbol ruangan yang seolah telah menjadi bagian dari indra penciumanku.
"Selamat pagi juga, Penjaga. Sampai kapan pun aku siap menjadi pahlawan."
Nova duduk di tepi tempat tidur, merasakan dadanya sesak. Setiap pagi adalah salinan buruk dari hari sebelumnya. Ritual "Keluarga Halu" berlangsung tanpa cela: Dokter Likton dengan wajah tuanya yang misterius, Jek Alien yang mengunyah baut logam dengan suara 'krak-krak' yang memilukan, dan Lilis Bunga yang menggugurkan rambut kelopak mawar busuknya ke piring bubur Nova.
Nova menelan sereal hambar itu dengan susah payah. Di pikirannya, ia adalah ksatria wanita berbaju zirah putih nebula, namun di meja makan ini, ia hanyalah seorang remaja yang dipaksa menelan kenyataan.
Setelah sarapan usai, ia melangkah keluar menuju sekolah. Lorong apartemen terasa lebih panjang dari biasanya. Di dalam sekolah, seorang NPC—seorang siswa tanpa wajah yang jelas yang sedang piket sebagai tukang sapu—berhenti dan membungkuk padanya.
"Selamat pagi, 'Tuan Putri yang Cantik'," ucap NPC itu dengan suara mekanis yang datar.
Nova tersentak. Panggilan itu seharusnya membuatnya senang karena ia adalah seorang perempuan, namun di tempat ini, segala sesuatu terasa seperti ejekan halus. NPC itu tidak melihat Nova; ia hanya membacakan baris dialog yang diprogram ke dalam kepalanya. Nova hanya mengangguk kecil, tangannya meremas Tedi di tasnya dengan kencang, mencoba berpikir positif bahwa itu mungkin sebuah pujian.
Di halaman sekolah, Nova menemui Clara dan berkata, "Woi sampah, tolong bantu aku memberikan makanan ke kucing liar yang ada di lapangan, mereka sudah kurus kerontang." Ternyata di balik sifat judes dan pemarahnya, Clara memiliki sisi baik yang penyayang terhadap binatang. Namun ia ragu, peraturan sekolah melarang memberikan makanan ke hewan liar di sana, bahkan untuk hewan yang membutuhkan bantuan.
Oleh karena itu, sebelum memberikan makanan itu, Nova bertanya kepada kita sang 'penjaga': "Apakah kita boleh memberikan sisa makanan kita untuk kucing yang malang ini?" kata Nova dengan polosnya. Dan kita pun memperbolehkannya.
Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sisa makanan cepat saji—potongan daging olahan berminyak yang penuh bahan pengawet dari kantin. "Makanlah, manis," bisik Nova lembut.
Kucing itu makan dengan lahap. Nova pun melanjutkan kesibukan sekolahnya, seperti melihat Ken yang memalak uang Ilham, serta belajar di kelas tentang dunia mereka yang berada di lantai terbawah rumah Nova.
Saat jam pulang sekolah, Nova memeriksa kembali kucing tersebut di halaman tanpa ada Clara di sana. Namun, tubuh hewan kecil itu mulai membusuk dengan busa putih keluar dari mulutnya. Nova membeku. Ia tidak tahu bahwa pencernaan makhluk lemah itu tidak sanggup menerima makanan tersebut. Kucing itu tergeletak dengan tubuh gepeng, mati dengan mata melotot ke arah Nova.
"Aku lihat Tuan Putri dan Clara tadi memberikan makanan ke kucing! Si pahlawan itu membunuh kucing!" adu seorang siswa NPC.
"Wah, Tuan Putri kita ternyata seorang pembunuh berdarah dingin," sahut yang lain.
Tiba-tiba, kerumunan NPC berkumpul, wajah-wajah buram mereka kini tampak penuh kebencian artifisial. Mereka menunjuk-nunjuk, melemparkan kata-kata kotor, menghakimi Nova karena ketidaktahuannya. Nova menyalahkan Clara, bahkan kita sebagai 'penjaga'-nya karena telah mengizinkannya. "Mengapa kamu memperbolehkan aku memberikan makanan yang sebenarnya adalah racun bagi kucing?"
Warna putih koridor seolah ingin menelan Nova hidup-hidup. Rasa mual yang hebat naik ke tenggorokannya. Kecemasan menjadi massa padat yang ingin meledak keluar dari perutnya.