Good Morning, Nova: teddy bear and love (series 1) edison novel

Pikri YAnor
Chapter #4

Lembaran Terlarang dan Taruhan Berdarah

"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"

Pertanyaan penjaga dari pikiranku itu tidak lagi terasa seperti sapaan, melainkan seperti sebuah tuntutan yang mencekik. "Selamat pagi juga penjaga, tentu saja aku siap." Balasannya dengan senyum tipis. Pagi ini, asrama terasa lebih dingin dari biasanya.

Tapi saat aku melihat leher dan lengan atas diriku, aku melihat bekas luka, mirip disayak oleh karter, Nova tidak memperdulikannya, itu mungkin adalah penyakit yang bisa saja baginya.

Setelah melewati sarapan yang mengerikan bersama Dokter Likton dan anggota "Keluarga Halu" lainnya, Nova pun memperlihatkan pergelangan tanganku ke Dokter Likton dan Dokter Likton hanya bisa tersenyum. "Itu adalah gejala dari nama 'self-harm', penyakit yang berasal dari hati kita." katanya. Nova tidak mengerti apa maksudnya, ia pun lanjut bertanya. "Apakah ada cara menyembuhkan-nya?" Tanya Nova. Tapi Dokter Likton pun tidak tahu cara menyembuhkan-nya bagaimana, bahkan obatnya saja ia tidak tahu. Nova pun tidak memperdulikannya Nova berpikir mungkin itu adalah penyakit biasa. Kemudian ia tidak langsung menuju sekolah. Ia menyelinap ke perpustakaan pribadi di sudut apartemen rumahnya, sebuah ruangan yang jarang ia jamah karena aromanya yang terlalu kuat seperti kertas tua yang membusuk.

Di rak paling belakang, tersembunyi di bawah lapisan debu tebal, Nova menemukan sebuah buku bersampul kulit hitam tanpa judul. Saat jemarinya menyentuh permukaan buku itu, sebuah sengatan statis merambat ke lengannya. Ia membukanya perlahan. Halaman-halamannya tidak berisi tulisan cetak, melainkan guratan tinta yang tampak berdenyut.

Mata Nova terbelalak membaca bab-bab di dalamnya: "Pengetahuan Agung, Alien, Manusia, Mahluk Fantasi, Penjaga, dan Pengawas".

Di sana tertulis sebuah kalimat yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: "Manusia adalah wadah yang rapuh, Mahluk Fantasi adalah mahluk dari pelarian seseorang yang sangat nyata, Alien adalah mahluk asing yang berpura-pura menjadi Manusia yang rapuh, Pengawas adalah ia yang memastikan simulasi tidak pernah retak sebelum sang Pengetahuan Agung terbangun dari kematiannya, dan Penjaga adalah ia yang mengendalikan wadahnya yaitu Manusia." Nova meremas buku itu. Apakah "Pengawas" yang dimaksud adalah Dokter Likton? Dan siapakah sebenarnya "Pengetahuan Agung" yang konon sedang sekarat di dunia mini itu?. Sebelum ia sempat membaca lebih jauh, suara langkah kaki berat di koridor membuatnya terpaksa menyembunyikan buku itu di dalam bajunya dan bergegas pergi.

Di gerbang sekolah, atmosfer terasa berbeda. Nova yang biasanya disambut dengan hinaan, tiba-tiba dihentikan oleh 'Ken'. Ksatria lapis baja hitam kebiruan di dimensi lain itu kini berdiri dengan senyum yang dipaksakan, menghalangi jalan Nova.

"Wah, lihat siapa ini. Tuan Putri kita hari ini terlihat sangat mempesona," ucap Ken dengan nada yang terlalu manis untuk ukuran orang yang biasanya mendorong Nova ke loker. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama nanti? Aku yang traktir—maksudku, kamu yang bawa uangnya, dan kita makan bersama.".

Nova tahu persis apa artinya itu. Itu adalah cara halus Ken untuk memalak. Ken merasa bahwa karena mereka sekarang "rekan setim" di dimensi lain, ia punya hak istimewa untuk menguras saku Nova. Namun, sebelum Nova sempat menolak, 'Clara' muncul dengan wajah masamnya, diikuti oleh 'Ilham' yang gemetar dan 'Sahsha' yang tampak seperti sedang menghitung debu di udara.

Lihat selengkapnya