Good Morning, Nova: teddy bear and love (series 1) edison novel

Pikri YAnor
Chapter #6

Bursa Eksistensi dan Gerbang Putih

"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"

Pertanyaan kita sang 'penjaga' itu terasa seperti hantaman palu di atas kaca yang sudah retak. "Selamat pagi juga Penjaga, iya aku selalu siap." Pagi ini, rumah terasa lebih steril, lebih putih, dan lebih sunyi, ditambah luka di leher, dan lengan atasnya yang bertambah banyak dan semakin sakit, membuatnya tidak nyaman lagi. Dengan pergelangan tangannya yang bertuliskan angka 4 juga cukup sakit.

Dokter Likton berdiri di sudut ruang makan, wajah Dokter Likton yang tua, dingin, dan juga menakutkan dengan senyum anehnya yang tidak sefrekuensi dengan matanya—sebuah ketenangan palsu yang justru membuat bulu kuduk merinding Nova.

Nova menelan buburnya perlahan, merasakan buku hitam di balik bajunya menekan perut pinggangnya. Ia tidak lagi melihat Jek Alien atau Lilis Bunga sebagai keluarga. Di matanya, mereka kini hanyalah variabel dalam simulasi "Deterlualis" yang mulai rusak. Sebelum aku ke sekolahan, Dokter Likton datang kepadaku dan bilang dengan tatapan misteriusnya, "Jangan dekati Ilham, karena menyebut diri sebagai tuhan adalah suatu yang hina," tapi bagiku, Ilham itu adalah seseorang yang senasib sepertiku.

Di sekolah, kursi Clara kosong. Tidak ada lagi gumaman jutek atau aura api merah muda yang biasanya menyeimbangkan kegilaan Ken. Di meja Ilham yang dipenuhi dengan coretan 'tuhan payah, tuhan sudah mati kok dia hidup', dan papan tulis bertulisan yang hampir mirip, ia pun mencari keberadaan Ilham berada di mana, dan mencemaskannya. Lalu ia akhirnya ia bertemu dengan Ilham di belakang perpustakaan. Ilham terlihat lebih hancur daripada saat mereka kehilangan Clara, dan ia terus meremas ujung lengan bajunya.

"Nova," bisik Ilham, suaranya bergetar hebat. "Aku tidak bisa lagi, kekuatan Tuhan-ku tak bisa mengubah takdir. Aku melihat mereka membawa Clara ke 'Bengkel'. Itu bukan bengkel, Nova. Itu tempat penghapusan. Kita harus keluar dari sini. Sekarang."

Nova menatap pintu gerbang sekolah yang biasanya terlihat seperti batas dunia yang tak tertembus. Namun, hari ini, ia merasakan dorongan yang sama. "Ke mana kita akan pergi, Ilham? Di luar sana mungkin lebih buruk."

"Apapun lebih baik daripada menjadi manekin tanpa jiwa," jawab Ilham tegas.

Dengan nekat, mereka menyelinap melewati celah pagar belakang yang tertutup semak berduri. Begitu kaki mereka menginjak aspal di luar lingkungan sekolah, realitas seolah-olah bergeser.

Saat mereka lagi perjalanan keluar sekolah, Ilham bertanya tentang penjagaku—kita—lalu Ilham berkata, "Penjaga itu memiliki empat tipe; dua untuk perempuan, dua lagi untuk laki-laki. Dua tipe penjaga perempuan adalah Sinol dan Akardia. Dan dua tipe penjaga untuk laki-laki adalah Torcasis dan Lifasis."

"Aku merasa aneh, mengapa tipe penjaga kamu adalah tipe Lifasis jika kamu seorang perempuan?" tanya Ilham.

"Itu karena penjagaku ini istimewa," balas Nova dengan sedikit ngambek.

Lalu setelah pembicaraan yang tidak penting itu, mereka pun tidak menemukan kota simulasi yang normal, melainkan sebuah distrik kumuh yang diselimuti kabut tebal berwarna neon.

Tempat itu adalah 'Bursa Eksistensi'.

Di sepanjang jalan, mereka melihat kios-kios aneh dengan lampu kelap-kelip yang menjajakan barang-barang yang tidak masuk akal.

Lihat selengkapnya