Nova melompat ke dalam layar merah. Rasa panas yang menghantam tubuhnya bukan berasal dari api fisik, melainkan dari radiasi kebencian yang menggumpal. Ia terjatuh ke sebuah lanskap yang tampak seperti gurun emas, namun saat tangannya menyentuh butiran di bawahnya, ia menyadari itu bukan pasir. Itu adalah ribuan koin imitasi dan perhiasan plastik yang sudah mengelupas warnanya. Langit di dimensi ini tidak memiliki matahari; hanya ada satu lampu gantung raksasa yang bergoyang-goyang, memancarkan cahaya kuning redup yang tidak konsisten.
"Sahsha!" teriak Nova, tenggorokannya terasa kering seperti telah menelan debu selama bertahun-tahun.
Di kejauhan, ia melihat Sahsha. Gadis itu berdiri di tengah tumpukan kotak hadiah yang dibungkus kertas krep kusam. Sahsha menatap kosong ke langit-langit, mulutnya menganga lebar seperti biasa, seolah-olah ia sedang mencoba menangkap sinyal yang hilang dari udara. Penampilan Sahsha di dimensi ini tampak jauh lebih rapuh; gaun putih biologisnya kini dipenuhi noda darah tipis dan wajah porselennya pucat pasrah tanpa daya pertahanan.
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Kotak-kotak hadiah itu meledak, mengeluarkan asap hitam yang berbau belerang. Dari reruntuhan itu, muncullah Monster Kedelapan: "The Grifter’s Alms (Sang Penipu Sedekah)".
Wujudnya adalah perpaduan mengerikan antara peti kemas dan manusia. Tubuhnya terbuat dari brankas besi yang terus-menerus terbuka dan tertutup, memuntahkan harapan-harapan palsu dalam bentuk brosur dan kupon kosong. Wajahnya adalah topeng porselen yang tersenyum lebar, namun dari lubang matanya keluar tangan-tangan kurus yang membawa nampan perak kosong.
"Beri kami sedikit... dan kami akan memberimu segalanya!" raung monster itu dengan suara yang tumpang tindih antara bisikan pendeta dan teriakan makelar. "Hadiahmu ada di sini! Keselamatanmu sudah dibayar!"
Monster ini adalah manifestasi dari rasa sakit seseorang yang dikhianati oleh janji-janji suci dan hadiah yang tidak pernah datang. Seseorang yang memberikan seluruh hartanya demi "sedekah" yang dijanjikan akan berlipat ganda, namun berakhir dengan kehampaan.
"Nova, menjauh!" Sahsha tiba-tiba bersuara, suaranya bergetar penuh ketakutan.
Namun, 'The Grifter’s Alms' bergerak lebih cepat daripada kilat statis. Tangan-tangan kurusnya yang membawa nampan perak memanjang, berubah menjadi bilah-bilah tajam yang terbuat dari emas berkarat. Monster itu melakukan tebasan horizontal yang menyapu dimensi tersebut.
"CRAAAKKK!"
Waktu seolah berhenti bagi Nova. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bilah tajam itu memotong leher Sahsha. Percikan api hebat memercik dari gesekan benturan logam tubuh monster itu, beradu secara mengerikan dengan semburan darah kental yang membual dari leher Sahsha. Daging, otot, tulang biologis, dan kulit lehernya terputus telanjang di depan mata. Kepala Sahsha terlepas sepenuhnya dari bahunya. Tubuh biologis Sahsha ambruk ke tumpukan koin plastik, sementara kepalanya menggelinding jauh, masih dengan posisi mulut yang menganga lebar.
"SAHSHA!!!"
Jeritan Nova membelah kesunyian dimensi tersebut. Ia berlari menuju tubuh Sahsha, air mata mulai mengalir deras menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Dunia di sekitarnya mulai bergetar hebat; angka 7 di lengannya memancarkan cahaya merah yang menyakitkan, seolah-olah ikut merasakan kematian teman terakhirnya.
"Selesai sudah," bisik monster itu sambil tertawa, suaranya seperti koin yang beradu di dalam kaleng kosong. "Tidak ada hadiah untuk pahlawan. Hanya ada potongan harga untuk jiwa yang hancur."
Nova jatuh terduduk di depan tubuh tanpa kepala itu. Ia meraung, memukul-mukul tumpukan koin palsu hingga tangannya berdarah. Keputusasaan yang luar biasa mulai menelan kesadarannya. Ia merasa Dokter Likton telah menang. Simulasi ini telah memakan segalanya.