Good Morning, Nova: teddy bear and love (series 1) edison novel

Pikri YAnor
Chapter #12

Perjamuan Bangkai Dewa dan Janji Tanpa Api

Kegelapan di balik televisi keempat ternyata bukanlah kehampaan. Saat Nova, Ilham, dan raga kosong Sahsha melangkah melewati batas transmisi terakhir, mereka mendarat di sebuah ruang yang melampaui segala logika arsitektur yang pernah mereka temui. Tempat itu adalah 'Pusat Kiamat Logika', sebuah dimensi yang menyerupai bagian dalam sebuah bola kristal raksasa yang sudah retak seribu. Di bawah kaki mereka, lantai kaca transparan memperlihatkan kehancuran dunia mini; gedung-gedung Bursa Eksistensi runtuh menjadi debu data, dan sekolah mereka tampak seperti miniatur yang sedang terbakar dalam keheningan.

Nova melepaskan genggamannya pada Sahsha yang kini berdiri mematung di sudut ruang, mulutnya tetap menganga menangkap sisa-sisa frekuensi yang mulai hilang. Nova menoleh ke arah Ilham. Di tengah kehancuran ini, Ilham tampak berbeda. Ketakutannya yang histeris tadi seolah menguap, digantikan oleh ketenangan yang aneh.

Ilham menatap Nova. Jantung Nova mendadak berdegup kencang—bukan karena takut pada monster, tapi karena cara Ilham melihatnya. Di tengah kekacauan ini, Ilham memberikan sebuah senyuman kecil yang tulus, sebuah senyuman yang belum pernah Nova lihat selama mereka terjebak dalam simulasi ini. Senyum itu begitu hangat, begitu manusiawi, hingga membuat Nova merasa pipinya memanas.

Kemudian sesaat itupun juga, Nova melihat leher dan lengan atas diriku yang penuh luka itu berubah menjadi bunga dan menyembuhkan penyakit 'self-harm' diriku dengan menangis yang bahagia namun penuh dengan ironi.

Namun itu hanyalah sesaat mereka menyadari sedang berdiri di ambang kepunahan. Ia memalingkan wajahnya, merasa terharu dan malu, seolah mereka hanyalah dua remaja biasa yang sedang berbagi momen di balik gudang sekolah, bukan di jantung sebuah dewa yang sekarat.

"Nova," bisik Ilham lembut. "Lihat ke depan."

Nova mengangkat kepalanya. Di pusat ruangan itu, terduduk sebuah entitas yang berada di dalam televisi, sudah tidak bisa lagi disebut sebagai megah. Itulah 'Sang Pengetahuan Agung'. Wujudnya tidak bisa dijelaskan, namun tergantung oleh setiap orang yang melihatnya memiliki tampilan yang berbeda. Dimata Nova ia adalah seorang wanita yang memiliki mata tiga yang buta, dua mata disebelah kiri dan kanannya hidung dan satu lagi di dahinya yang hitam, dan seperti di dialiri oleh sirkuit cahaya yang redup dan terputus-putis didalam televisi tersebut. Ia duduk di dalam televisi yang terbuat dari jam dan elektronik mekanik yang pecah. Penampilannya sangat lemah, nafasnya terdengar seperti gesekan kertas kering yang tertiup angin. Tidak ada aura kekuatan; yang ada hanyalah aroma keputusasaan yang pekat.

"Kalian akhirnya datang... di saat aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan," suara sang Dewa bergema lemah, lebih mirip seperti desis radio yang kehilangan sinyal.

Mata sang Dewa yang buta menatap Nova dengan tatapan yang penuh duka. "Semua yang menyembahku... telah berkhianat. Mereka menukar kebijaksanaan dengan keserakahan, menukar cinta dengan transaksi berbayaran di Dunia Eksistensi. Faksi 'Globalis' yang mengaku sebagai penjaga harmoni, kini berperang hebat melawan faksi 'Anti-Globalis' yang menolak untuk menyatu dengan mereka."

Sang Dewa terbatuk, dan dari mulutnya keluar butiran cahaya hitam yang langsung lenyap. "Demi memenangkan perang ini, kaum Globalis mencongkel mata kami hingga diri kami buta, demi merampas 'Deterlualis'—kepastian dan dualitas yang menjaga keseimbangan. Kekuatan itu mereka gunakan untuk menciptakan monster dan mempertahankan eksistensi mereka sendiri. Namun kini, Deterlualis sudah tidak bisa lagi para Globalis pegang dan jangkau. Kami hanyalah sisa-sisa yang membusuk di dalam dimensi ini."

"Walaupun seperti itu, kami tetap mengampuni mereka. Apa pun yang mereka lakukan hingga membuat kami tersiksa, kami akan tetap menjadi sosok yang maha pengampun dan pengasih," ucap sang Dewa dengan senyum tulus di balik wajahnya yang memelas.

Lihat selengkapnya