"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menyaksikan akhir dunia hari ini?"
Suara kita sang 'penjaga' itu bergema di kepalanya lagi, namun bukan sebagai sapaan yang hangat, namun sebagai kalimat sapan yang sangat dingin. Nova mengerjapkan matanya berulang kali. Sisa-sisa penglihatan tentang matahari yang meledak dan dirinya yang menjadi Tuhan tanpa gender masih membekas di retina matanya seperti 'burn-in' pada layar monitor tua. Namun, perlahan-lahan, kegelapan singularitas itu memudar, berganti dengan pendar biru yang tenang dari sebuah layar kaca.
Nova menemukan dirinya duduk di sebuah sofa kulit berwarna hitam yang dingin dan sangat nyaman. Di sampingnya, sebuah mesin kopi otomatis berdesis pelan, mengeluarkan aroma arabika yang tajam dan menenangkan. Di hadapannya, sebuah televisi tabung besar baru saja menayangkan layar statis "Semut Hitam Putih"—suara 'kresek-kresek' yang konstan—setelah adegan kehancuran semesta yang luar biasa dramatis tadi berakhir dengan tulisan 'THE END'.
Di sebelah kanan Nova, duduk sesosok pria dengan setelan jas putih yang sangat rapi. Pria itu menyilangkan kakinya dengan santai. Seperti biasa ia adalah seorang pria paruh baya berwajah teduh, mengenakan topi hitam, dan memiliki senyum aneh tapi juga yang sangat tenang.
Dokter Likton. Sang Pengawas.
Likton meletakkan remot kontrol di atas meja kopi kayu yang mengilap, lalu menoleh ke arah Nova. Tatapannya sangat dalam, seolah ia bisa membaca setiap sisa adrenalin yang masih mengalir di pembuluh darah Nova.
"Bagaimana menurutmu dengan acaranya, Nova?" tanya Dokter Likton dengan suara bariton yang lembut dan terjaga. "Visualnya, konfliknya... dan tentu saja, akhir yang sangat emosional tentang ketuhanan dan penolakan gairah itu? Menurutmu, apakah sang pahlawan mengambil keputusan yang tepat dengan mengatur ulang seluruh semesta hanya karena patah hati?"
Nova menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sempat menyempit di dimensi hampa tadi. Ia merasakan keringat dingin di tengkuknya mulai mengering akibat suhu AC ruangan yang stabil. Sensasi menelan bangkai dewa, rasa sakit saat kepalanya serasa pecah oleh energi Deterlualis, hingga perdebatan menyakitkan dengan Ilham tentang "cinta yang sehat tanpa nafsu"—semuanya terasa seperti sisa-sisa mimpi buruk yang masih menempel erat di kelopak matanya.
Nova terdiam cukup lama, memandangi pantulan dirinya di layar televisi yang sudah mati. Di sana, ia melihat seorang remaja dengan rambut putih kekuningan bergelombang sedikit berantakan, dan baju putihnya. Bukan dewa, bukan penguasa galaksi. Hanya Nova.
"Acaranya... cukup bagus, Dok," jawab Nova akhirnya. Suaranya terdengar serak, seperti orang yang baru saja bangun dari tidur yang terlalu lama. "Plot twist-nya lumayan. Saya hampir benar-benar percaya kalau saya bisa menghancurkan matahari hanya dengan kemarahan saya."
Dokter Likton terkekeh pelan. Itu adalah tawa yang terdengar tulus, namun entah mengapa tetap terasa seperti bagian dari sebuah protokol. "Imajinasi adalah obat sekaligus racun, bukan? Terkadang, kita perlu melihat diri kita menjadi sesuatu yang mustahil—menjadi Tuhan, menjadi penghancur, menjadi tak terbatas—hanya untuk memahami betapa sederhananya kenyataan kita yang sebenarnya. Terkadang, kita butuh kiamat imajiner untuk menghargai rutinitas yang membosankan."
Likton berdiri, merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun, lalu berjalan menuju jendela besar yang mendominasi ruangan itu. Ia menyibak tirai berat berwarna beludru, memperlihatkan pemandangan kota yang berwarna sibuk di pagi hari. Di luar sana, matahari bersinar cerah dan normal—tidak meledak, tidak membesar. Mobil-mobil melintas di jalanan layang, dan kehidupan berjalan dengan bisingnya yang biasa.