"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"
Pertanyaan dari interkom itu tidak lagi terasa seperti sapaan, melainkan sebuah tuntutan yang mencekik. Pagi ini, asrama terasa lebih dingin dari biasanya. Setelah melewati sarapan yang mengerikan bersama Dokter Likton dan anggota "Keluarga Halu" lainnya, Nova tidak langsung menuju sekolah. Ia menyelinap ke perpustakaan pribadi di sudut apartemennya, sebuah ruangan yang jarang ia jamah karena aromanya yang terlalu kuat seperti kertas tua yang membusuk.
Di rak paling belakang, tersembunyi di bawah lapisan debu tebal, Nova menemukan sebuah buku bersampul kulit hitam tanpa judul. Saat jemarinya menyentuh permukaan buku itu, sebuah sengatan statis merambat ke lengannya. Ia membukanya perlahan. Halaman-halamannya tidak berisi tulisan cetak, melainkan guratan tinta yang tampak berdenyut.
Mata Nova terbelalak membaca bab-bab di dalamnya: "Pengetahuan Agung, Alien, Manusia, Mahluk Fantasi, Penjaga, dan Pengawas".
Di sana tertulis sebuah kalimat yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: "Manusia adalah wadah yang rapuh, Mahluk Fantasi adalah pelarian yang nyata, dan Pengawas adalah mereka yang memastikan simulasi tidak pernah retak sebelum sang Pengetahuan Agung terbangun dari kematiannya.". Nova meremas buku itu. Apakah "Pengawas" yang dimaksud adalah Dokter Likton? Dan siapakah sebenarnya "Pengetahuan Agung" yang konon sedang sekarat di dunia mini itu?. Sebelum ia sempat membaca lebih jauh, suara langkah kaki berat di koridor membuatnya terpaksa menyembunyikan buku itu di dalam jaketnya dan bergegas pergi.
Di gerbang sekolah, atmosfer terasa berbeda. Nova yang biasanya disambut dengan hinaan, tiba-tiba dihentikan oleh 'Ken'. Ksatria lapis baja hitam kebiruan di dimensi lain itu kini berdiri dengan senyum yang dipaksakan, menghalangi jalan Nova.
"Wah, lihat siapa ini. Tuan Putri kita hari ini terlihat sangat mempesona," ucap Ken dengan nada yang terlalu manis untuk ukuran orang yang biasanya mendorong Nova ke loker. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama nanti? Aku yang traktir—maksudku, kamu yang bawa uangnya, dan kita makan bersama.".
Nova tahu persis apa artinya itu. Itu adalah cara halus Ken untuk memalak. Ken merasa bahwa karena mereka sekarang "rekan setim" di dimensi lain, ia punya hak istimewa untuk menguras saku Nova. Namun, sebelum Nova sempat menolak, 'Clara' muncul dengan wajah masamnya, diikuti oleh 'Ilham' yang gemetar dan 'Sahsha' yang tampak seperti sedang menghitung debu di udara.
"Jangan banyak bicara, Ken. Kita punya urusan yang lebih penting daripada perut rakusmu itu," ketus Clara. Ia menatap Nova dengan tajam. "Kamu bawa 'tiketnya' kan?".
Nova mengangguk pelan. Ia membawa botol ungu keemasan itu. Tanpa mempedulikan tatapan bingung dari para NPC yang berlalu lalang, mereka berlima menyelinap ke gudang olahraga yang gelap. Ruangan itu berbau karet dan keringat lama, sebuah tempat yang sempurna untuk menghilang dari radar Dokter Likton.