"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"
Suara itu kini terdengar seperti rekaman rusak yang berputar di dalam kepalanya. Nova terbangun dengan rasa perih di pergelangan tangannya. Angka '3' di sana berdenyut pelan, seolah-olah menghitung mundur kewarasan yang tersisa. Ia tidak lagi peduli pada sarapan atau wajah televisi Dokter Likton yang statis. Pikirannya tertuju pada buku hitam yang ia sembunyikan semalam. Kata "Pengawas" dan "Penjaga" terus membayanginya, namun ada urgensi lain yang lebih besar hari ini: getaran botol pil di sakunya terasa sangat liar, seolah-olah ada monster yang sudah tidak sabar ingin dikuliti.
Di sekolah, suasana terasa sangat mencekam. Kabar tentang seorang siswa yang menghilang setelah ketahuan menjual foto-foto perundungan ke Kepala Sekolah menjadi buah bibir. Bukan karena tindakan heroiknya melaporkan kejahatan, melainkan karena siswa itu melakukan "transaksi" tersebut demi uang tutup mulut yang gagal. Ia bukan informan; ia adalah penjual penderitaan.
"Kita masuk sekarang," desis Clara. Wajahnya hari ini terlihat jauh lebih gelap. Amarah yang biasanya meledak-ledak kini berubah menjadi keheningan yang tajam.
Ken, Ilham, dan Sahsha mengikutinya ke balik gedung asrama yang terbengkalai. Mereka menelan pil itu tanpa ragu.
'Zrrtt... Glitch!'
Dunia di sekitar mereka robek secara vertikal. Mereka tidak mendarat di atas papan permainan atau taman mawar, melainkan di sebuah labirin koridor sekolah yang tak berujung. Dindingnya tidak terbuat dari semen, melainkan tumpukan ribuan lembar foto polaroid yang berkedip-kedip menampilkan adegan kekerasan yang terus berulang. Bau udara di sini seperti bahan kimia pengembang film yang asam dan menyengat.
Tedi muncul, namun kali ini zirah emasnya tampak kusam. "Hati-hati," Tedi memperingatkan dengan suara parau. "Monster kali ini adalah 'The Paparazzi of Pain'. Dia lahir dari jiwa remaja yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai komoditas. Dia tidak punya hati, hanya lensa."
Dari kegelapan koridor, muncullah monster itu. Wujudnya adalah kamera raksasa yang berkaki kurus panjang seperti laba-laba. Di tengah lensa besarnya, terlihat sebuah mata manusia yang terus berputar cepat, mencari sudut paling menyakitkan untuk difoto. Setiap kali *shutter*-nya berbunyi *klik*, sebuah kilatan cahaya menyambar dan membekukan gerakan para pahlawan.
"Aku akan menghancurkan matanya!" teriak Clara. Ia melompat maju dengan pecut api merah mudanya yang membara. Clara tampak sangat emosional hari ini. Serangannya tidak teratur, penuh dengan dendam yang seolah-olah ditujukan pada monster itu secara personal.
"Clara, tunggu! Jangan menyerang sendirian!" Nova memperingatkan, tapi terlambat.
Monster itu mengeluarkan bunyi 'klik' yang memekakkan telinga. Sebuah kilatan cahaya yang sangat terang menghantam Clara tepat di dada. Clara tidak terlempar, ia justru terpaku. Tubuhnya mulai berubah menjadi hitam putih, seolah-olah warnanya tersedot masuk ke dalam lensa monster tersebut.