Good Morning, Nova: Teddy bear and Love (series 1)

Pikri YAnor
Chapter #7

Dogma yang Membusuk dan Runtuhnya Sang Raja

"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"

Suara interkom itu kini terdengar lebih mirip seperti vonis mati. Nova terbangun dengan tubuh yang kaku, sisa-sisa cairan penenang dari suntikan para penjaga berbaju RSJ semalam masih terasa mengalir di nadinya, membuat pikirannya tumpul. Ia melirik ke samping; Tedi tergeletak tak berdaya dengan satu mata kancingnya yang seolah menatap hampa. Nova meraba pergelangan tangannya. Angka 4 di sana berdenyut kusam.

Setelah ritual sarapan yang sunyi—di mana Dokter Likton hanya diam dengan layar televisi yang menampilkan barisan semut hitam—Nova melangkah ke sekolah. Kursi Clara masih kosong, dan kini Ilham pun tidak ada. Suasana kelas terasa mencekam, para NPC hanya duduk mematung dengan tatapan kosong, menunggu skenario harian dimulai.

Ken duduk di kursi paling belakang, kakinya diangkat ke atas meja, berusaha terlihat berkuasa seperti biasanya. Namun, Nova bisa melihat tangan Ken yang gemetar saat ia memutar-mutar koin peraknya. Ken sedang ketakutan. Kehilangan Clara dan Ilham telah merobek topeng keberaniannya.

"Woi, Putri Tidur," panggil Ken saat Nova lewat, mencoba memalak dengan nada bicaranya yang kasar namun terdengar hampa. "Mana uang keamanan hari ini? Atau kau mau aku seret ke gudang lagi?"

Nova tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan botol pil ungu keemasan dan meletakkannya di meja Ken. "Kita tidak punya banyak waktu, Ken. Ilham sudah dibawa. Jika kita tidak bergerak sekarang, kita berikutnya."

Ken terdiam, matanya menatap botol itu dengan benci sekaligus butuh. Tanpa banyak bicara, mereka berdua menelan pil itu di tengah kelas yang hening.

'CRACK!'

Ruang kelas itu terbelah menjadi dua kutub yang berlawanan. Separuh ruangan berubah menjadi katedral kuno yang megah namun dindingnya terbuat dari daging yang membusuk, sementara separuh lainnya berubah menjadi perpustakaan tanpa ujung dengan rak-rak buku yang terus terbakar.

Tedi muncul dengan zirah emas yang retak di beberapa bagian. "Misi keempat," suaranya menggelegar penuh duka. "Kalian menghadapi anomali ganda. Dua monster dari satu jiwa yang terbelah. 'The Corrupted Prophet' dan 'The Broken Sophist'."


Monster pertama, The Corrupted Prophet, adalah perwujudan dari agama yang rusak. Wujudnya seperti malaikat dengan sayap yang terbuat dari duri-duri besi dan wajah yang ditutupi oleh kitab suci yang terus mengeluarkan darah hitam. Ia membisikkan dogma-dogma yang memutarbalikkan cinta menjadi kebencian.

Monster kedua, 'The Broken Sophist', melambangkan filosofi yang rusak. Ia berbentuk seperti patung marmer yang hancur, namun fragmen-fragmennya melayang-layang membentuk pola geometris yang menyakitkan mata. Ia terus-menerus melontarkan paradoks-paradoks nihilistik yang mencoba membuktikan bahwa eksistensi mereka tidak berarti apa-apa.

Lihat selengkapnya