"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"
Suara itu tidak lagi berasal dari interkom. Kali ini, ia merambat keluar dari retakan di dinding, berbisik langsung ke dalam sumsum tulang Nova. Pagi ini, Nova tidak beranjak dari tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit kamar yang tampak bergetar seperti sinyal televisi yang buruk. Pergelangan tangannya terasa panas membara; angka '6' di sana berdenyut dengan warna ungu kehitaman, seolah-olah tinta itu mencoba memakan kulitnya hidup-hidup.
Nova meraba saku jaketnya. Kosong. Botol pil ungu keemasan itu telah hilang—mungkin dirampas oleh para penjaga berbaju RSJ saat ia diseret kembali semalam, atau mungkin Dokter Likton memutuskan bahwa masa pakai "obat" itu telah habis. Tanpa pil itu, ia seharusnya terjebak di sini, di dalam rutinitas steril yang membunuh jiwa. Namun, Nova merasakan tarikan lain. Ia tahu Sahsha sedang menunggunya di suatu tempat di balik layar. Sahsha, gadis yang selalu melamun itu, adalah satu-satunya pilar yang tersisa di tengah kiamat logika ini.
Nova menatap televisi tua di sudut kamarnya. Layarnya yang cembung memancarkan cahaya biru statis yang hipnotik. Dokter Likton tidak ada di sana, hanya deru suara 'white noise' yang terdengar seperti ribuan serangga yang mengepakkan sayap.
"Aku tidak butuh pil itu lagi," bisik Nova pada Tedi yang tergeletak bisu. "Dunia ini sudah cukup hancur hingga realitasnya bocor."
Nova merangkak mendekati televisi itu. Ia menyentuh layarnya yang dingin, namun tangannya tidak tertahan oleh kaca. Permukaan televisi itu beriak seperti genangan air raksa. Dengan satu tarikan napas panjang, Nova membiarkan dirinya ditelan oleh transmisi tersebut.
Ia mendarat di sebuah tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Tidak ada zirah nebula, tidak ada sayap cahaya. Nova berdiri di tengah hamparan tanah merah yang becek, namun itu bukan lumpur—itu adalah darah yang mulai mengental. Bau karat dan anyir menyengat indra penciumannya. Langit di atas sana bukan lagi kelabu, melainkan tumpukan awan hitam yang terbuat dari lalat-lalat raksasa yang berdengung.
"Sahsha?" panggil Nova. Suaranya bergema hampa.
Sahsha tidak ada di sana. Ruangan itu kosong dari kehadiran manusia, namun penuh dengan kebencian yang terwujud. Di hadapan Nova, berdiri pilar-pilar tinggi yang terbuat dari tulang belulang yang disusun rapi. Di setiap pilar, terdapat spanduk merah darah dengan tulisan-tulisan yang menyakitkan mata:
"MARI BERGABUNG BERSAMA KAMI SEBAGAI BAGIAN DARI RUMAH JAGAL"
"MARI KITA MELAKUKAN KEKERASAN UNTUK KEBENARAN"