Nova melangkah masuk ke dalam televisi kedua. Berbeda dengan dimensi sebelumnya yang panas dan bising, dunia di balik layar biru ini adalah sebuah keheningan yang membekukan. Mereka mendarat di sebuah ruangan tanpa batas yang menyerupai gudang arsip raksasa. Rak-rak kayu yang menjulang hingga ke langit yang tak terlihat dipenuhi oleh jutaan jam beker yang detaknya tidak sinkron, menciptakan suara detak jantung mekanis yang merambat di bawah kulit. Udara di sini terasa sangat berat, setiap tarikan napas terasa seperti menghirup debu ingatan yang pahit.
"Sahsha, tetap dekat denganku," bisik Nova. Suaranya terdengar layu, seolah-olah ruangan ini menyerap energi dari pita suaranya.
Sahsha berjalan di sampingnya dengan gerakan tersendat. Kepalanya yang baru saja dipasang kembali masih sedikit miring, dan matanya yang besar menatap kosong ke arah deretan jam beker. Mulutnya yang menganga memancarkan cahaya biru redup, seolah ia adalah satu-satunya sumber cahaya di labirin penyesalan ini.
Tiba-tiba, detak jutaan jam itu berhenti secara serentak. Kesunyian yang mengikuti terasa lebih menyakitkan daripada ledakan. Dari balik bayangan rak-rak arsip, muncullah 'Monster Kesembilan: The Chronicler of Regret (Sang Pencatat Penyesalan)'.
Monster ini tidak memiliki bentuk fisik yang mengancam. Ia menyerupai seorang pria tua yang membungkuk, dengan tubuh yang terbuat dari tumpukan surat kaleng dan telegram duka. Wajahnya tidak memiliki fitur manusia; sebagai gantinya, ada sebuah lensa proyektor tua yang berputar-putar, memancarkan cahaya biru pucat ke arah Nova. Di tangannya, ia memegang sebuah jam pasir yang isinya bukan pasir, melainkan air mata yang mengkristal.
"Selamat datang di titik nadir, Nova," suara monster itu terdengar seperti gesekan kertas tua. "Di sini, senjata nebulamu tidak ada gunanya. Di sini, keberanianmu hanyalah tinta yang tumpah di atas kertas yang sudah robek."
Sang Pencatat tidak menyerang. Ia hanya mengangkat jam pasirnya. Seketika, dinding-dinding arsip di sekeliling mereka berubah menjadi layar lebar yang menampilkan dua pemandangan yang berbeda secara bersamaan.
Di sisi kiri, Nova melihat 'Ilham'. Ia berada di dalam sel isolasi RSJ yang putih dan dingin. Ilham meringkuk di pojok ruangan, menangis sambil memandangi bayangannya sendiri yang mulai mencekiknya. Ia terlihat sangat hancur, sendirian, dan terus memanggil nama Nova dengan sisa suaranya yang serak.
Di sisi kanan, Nova melihat 'Sahsha' yang ada di depannya. Gadis yang setia menemaninya melewati rumah jagal dan dimensi penipuan, meskipun kepalanya sempat terputus.
"Mari kita bermain dengan logika kiamatmu, Nova," monster itu mendekat, lensa proyektor di wajahnya berputar cepat. "Kau hanya memiliki satu 'Slot Kesadaran' yang tersisa sebelum sistem ini menutup. Pilih satu untuk kau bawa menuju Deterlualis, dan satu lagi harus menjadi tumbal bagi ingatan yang terlupa."
Monster itu mulai membisikkan racun psikologis ke telinga Nova. "Lihat Ilham. Dia masih utuh, Nova. Dia adalah teman masa kecilmu yang tahu siapa kau sebenarnya sebelum kau terjebak dalam delusi pahlawan ini. Dia butuh kau sekarang. Dia ketakutan. Jika kau tidak memilihnya, dia akan selamanya menjadi gila di bawah tangan Dokter Likton."