Good Morning, Nova: Teddy bear and Love (series 1)

Pikri YAnor
Chapter #11

Monumen Serakah dan Labirin Transmisi Terakhir

Nova menyeret langkahnya keluar dari sisa-sisa dimensi biru yang membeku, menarik tubuh Sahsha yang kini hanya bergerak karena tarikan mekanis. Di hadapannya, 'Ilham' akhirnya muncul—bukan sebagai pahlawan yang gagah, melainkan sebagai sosok yang gemetar dengan mata yang terus berputar liar. Ilham tampak seperti baru saja keluar dari mesin cuci emosi yang menghancurkan syarafnya.

"Nova... Sahsha... kenapa dia jadi seperti itu?" Ilham bertanya dengan suara serak, menatap Sahsha yang kini hanya menatap kosong dengan mulut menganga.

"Jangan tanya, Ilham. Kita harus bergerak," jawab Nova dingin. Amarahnya sudah melampaui batas kesedihan. Ia menggandeng tangan Ilham yang dingin dan melompat ke televisi ketiga—layar statis hitam-putih yang berdenyut seperti jantung yang sekarat.

Mereka mendarat di sebuah tempat yang tampak seperti perpaduan antara kantor pemerintahan yang megah dan rahim raksasa yang menjijikkan. Di sini, dindingnya terbuat dari tumpukan berkas-berkas hukum yang berdenyut, dialiri oleh pembuluh darah yang memompa tinta hitam. Di langit-langit, terdapat ribuan janin manusia dalam tabung kaca, namun janin-janin itu tidak tumbuh menjadi bayi, melainkan tumbuh menjadi tangan-tangan yang memegang koin dan stempel resmi.

Ini adalah dimensi 'Pertumbuhan yang Terdistorsi.

"Tempat apa ini?" Ilham menutup hidungnya. Bau ruangan ini adalah campuran antara kertas baru, parfum mahal, dan bangkai yang disembunyikan.

Tedi muncul, namun wujudnya kini mengerikan. Kapas di perutnya keluar, dan salah satu tangannya sudah putus. "Misi terakhir sebelum gerbang inti," bisik Tedi. "Kalian menghadapi monster dari jiwa seorang 'Pejabat Korup'. Seseorang yang melihat pertumbuhan manusia bukan sebagai kehidupan, tapi sebagai komoditas yang bisa diperas hingga tetes terakhir."

Tiba-tiba, dari balik tumpukan meja kerja yang tersusun seperti piramida, muncullah sang monster: 'The Sovereign Parasite (Sang Parasit Berdaulat)'.

Wujudnya luar biasa besar. Tubuhnya adalah gumpalan lemak yang dibalut setelan jas mahal yang robek di sana-sini karena pertumbuhan dagingnya yang tidak terkendali. Kepalanya adalah sebuah mesin penghitung uang otomatis yang terus mengeluarkan lidah-lidah panjang berupa pita cukai. Di punggungnya, tumbuh ribuan tangan kecil yang terus mencuri energi dari tabung-tabung janin di langit-langit.

"Pertumbuhan adalah milikku! Kesejahteraan adalah milikku!" raung sang Parasit. Suaranya terdengar seperti gabungan dari ribuan pidato kampanye yang diputar secara bersamaan. "Kalian hanyalah pajak yang belum kupungut!"

Monster ini mulai menyerang dengan memuntahkan tumpukan berkas yang berubah menjadi pisau-pisau tajam. Ia menciptakan gelombang kejut dari denting koin emas yang sanggup meremukkan tulang. Ilham berteriak, mencoba bersembunyi di balik bayangan, namun di dimensi ini, bayangan itu sendiri sudah digadaikan oleh sang Parasit.

Nova berdiri tegak. Angka '9' di lengannya berdenyut begitu keras hingga kulitnya terasa akan pecah. "Kau mencuri masa depan mereka... kau memakan pertumbuhan mereka untuk egomu sendiri!"

Nova meluncur ke depan. Tanpa zirah nebula yang utuh, ia menggunakan sisa energinya untuk membentuk pedang dari cahaya statis televisi. Ia menebas tangan-tangan kecil yang mencuri energi dari janin-janin di langit-langit.

Lihat selengkapnya