"Kenapa tanpa gairah, Ilham? Kenapa? Kenapa? Kenapa!"
Suara Nova melengking, memecah kesunyian jembatan cahaya yang tadinya terasa damai. Setiap kata "kenapa" yang keluar dari mulutnya terasa seperti hantaman palu yang menghancurkan sisa-sisa stabilitas mentalnya. Beban bangkai dewa di dalam jiwanya mendadak terasa seribu kali lebih berat, menekan dadanya hingga ia sulit bernapas. Air mata yang tadinya tertahan kini tumpah, bukan lagi sebagai bentuk kesedihan, melainkan sebagai bentuk protes terhadap semesta yang terus-menerus memberikan separuh kebahagiaan lalu merampas separuh lainnya.
Ia telah bertarung melewati sepuluh neraka personal, ia telah melihat teman-temannya berubah menjadi manekin tanpa jiwa, dan ia telah menelan entitas agung demi sebuah kesempatan untuk bersama. Namun, di gerbang kemenangan, ia justru dihempaskan oleh sebuah batasan yang lebih dingin daripada ruang isolasi Dokter Likton.
Ilham tetap berdiri dengan tenang, namun matanya memancarkan luka lama yang dalam. Ada kelelahan yang luar biasa di sana, sebuah kelelahan yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kemenangan atas monster.
"Nova... kamu sudah tahu alasannya. Kamu ingat dulu, kan? Kamu pernah dikhianati oleh seseorang yang hanya memanfaatkanmu. Seseorang yang menggunakan kata 'cinta' dan 'gairah' hanya untuk menguras jiwamu hingga kering," balas Ilham dengan nada yang sangat pelan, seolah takut suaranya akan memecahkan dimensi yang sudah retak ini. "Katanya kamu mau hubungan yang sehat? Hubungan yang tidak lagi menyakitimu? Aku hanya mencoba memberikan itu."
"Tapi aku percaya padamu, Ilham! Aku tidak menyamakanmu dengan mereka!" Nova melangkah maju, tangannya mencoba menggapai Ilham, namun getaran energi Deterlualis di sekelilingnya menciptakan distorsi yang menghalangi sentuhan mereka. "Apakah hubungan yang sehat itu harus tanpa ada gairah atau keintiman? Cinta tidak akan sempurna tanpa gairah, Ilham! Itu seperti sup tanpa garam! Hambar! Tidak ada rasanya! Aku tidak ingin dicintai sebagai pajangan di dalam lemari kaca!"
Ilham menunduk, memandangi tangannya sendiri yang tampak transparan di bawah cahaya jembatan dimensi. "Mohon maaf, Nova. Mungkin... mungkin kita memang harus temenan, tapi yang lebih dekat dari sekadar teman. Seperti dua jiwa yang saling menjaga tanpa harus saling menyentuh dengan nafsu. Aku takut, Nova. Aku takut jika api itu menyala, kita akan terbakar dan hancur lagi seperti dulu."
Nova tertawa pahit, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca yang beradu di dalam mesin penggiling. Ia menatap tubuhnya sendiri—tubuh yang selama ini ia benci karena terasa seperti sangkar yang salah. Ia melihat tangannya yang kasar, bahunya yang lebar, dan kenyataan biologis yang selalu ia coba tutup-tutupi dengan zirah nebula di dunia 'Interior Reality'.
"Apakah karena aku yang cowok, Ilham?" suara Nova mendadak rendah, serak oleh keputusasaan yang murni. "Apakah karena kenyataan fisik ini yang membuatmu tidak bisa merasakan api itu padaku? Apakah gender ini adalah tembok yang tidak bisa kau lompati, bahkan setelah kita mengalahkan dewa?"
Ilham terdiam. Keheningannya adalah jawaban yang paling tajam.