Kegelapan di balik televisi keempat ternyata bukanlah kehampaan. Saat Nova, Ilham, dan raga kosong Sahsha melangkah melewati batas transmisi terakhir, mereka mendarat di sebuah ruang yang melampaui segala logika arsitektur yang pernah mereka temui. Tempat itu adalah "Pusat Kiamat Logika", sebuah dimensi yang menyerupai bagian dalam sebuah bola kristal raksasa yang sudah retak seribu. Di bawah kaki mereka, lantai kaca transparan memperlihatkan kehancuran dunia mini; gedung-gedung Bursa Eksistensi runtuh menjadi debu data, dan sekolah mereka tampak seperti miniatur yang sedang terbakar dalam keheningan.
Nova melepaskan genggamannya pada Sahsha yang kini berdiri mematung di sudut ruang, mulutnya tetap menganga menangkap sisa-sisa frekuensi yang mulai hilang. Nova menoleh ke arah Ilham. Di tengah kehancuran ini, Ilham tampak berbeda. Ketakutannya yang histeris tadi seolah menguap, digantikan oleh ketenangan yang aneh.
Ilham menatap Nova. Jantung Nova mendadak berdegup kencang—bukan karena takut pada monster, tapi karena cara Ilham melihatnya. Di tengah kekacauan ini, Ilham memberikan sebuah senyuman kecil yang tulus, sebuah senyuman yang belum pernah Nova lihat selama mereka terjebak dalam simulasi ini. Senyum itu begitu hangat, begitu manusiawi, hingga membuat Nova merasa pipinya memanas. Untuk sesaat, Nova lupa bahwa mereka sedang berdiri di ambang kepunahan. Ia memalingkan wajahnya, merasa malu dan kikuk, seolah mereka hanyalah dua remaja biasa yang sedang berbagi momen di balik gudang sekolah, bukan di jantung sebuah dewa yang sekarat.
"Nova," bisik Ilham lembut. "Lihat ke depan."
Nova mengangkat kepalanya. Di pusat ruangan itu, duduk sebuah entitas yang sudah tidak bisa lagi disebut sebagai megah. Itulah **Sang Pengetahuan Agung**. Wujudnya adalah seorang pria tua yang tubuhnya transparan, dialiri oleh sirkuit cahaya yang redup dan terputus-putis. Ia duduk di atas takhta yang terbuat dari jam pasir pecah. Penampilannya sangat lemah, nafasnya terdengar seperti gesekan kertas kering yang tertiup angin. Tidak ada aura kekuatan; yang ada hanyalah aroma keputusasaan yang pekat.
"Kalian akhirnya datang... di saat aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan," suara sang Dewa bergema lemah, lebih mirip seperti desis radio yang kehilangan sinyal.
Mata sang Dewa yang kusam menatap Nova dengan tatapan yang penuh duka. "Semua yang menyembahku... telah berkhianat. Mereka menukar kebijaksanaan dengan keserakahan, menukar cinta dengan transaksi di Bursa Eksistensi. Aku adalah "Globalis", penjaga harmoni dunia ini, tapi kini aku hanyalah sisa-sisa yang membusuk. "Deterlualis"—kepastian dan dualitas yang menjaga keseimbangan—sudah tidak bisa lagi aku jangkau. Kekuatan itu telah dicuri oleh para Pengawas untuk menciptakan penjara ini."
Sang Dewa terbatuk, dan dari mulutnya keluar butiran cahaya hitam yang langsung lenyap. "Dunia mini ini... akan berakhir dalam hitungan detik. Simulasi ini akan runtuh, dan kalian akan tersapu ke dalam ketiadaan jika kalian tidak melakukan satu hal terakhir."
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Nova, suaranya bergetar melihat pilar-pilar di sekeliling mereka mulai pecah berkeping-keping.