Good Morning, Nova: Teddy bear and Love

Pikri YAnor
Chapter #1

Pagi yang Pecah di Langit Kertas

"Dunia sudah musnah, hati sudah tidak ada, dan Tuhan sudah tak acuh—atau mungkin Ia telah lama mati, menjadi mayat yang hidup dalam ingatan-ingatan yang membusuk."

Kalimat itu bukan sekadar pikiran; itu adalah detak jantung Nova. Sebuah mantra pahit yang ia rapal setiap kali kesadarannya dipaksa kembali ke permukaan. Kegelapan di balik pelupuk matanya perlahan tersapu oleh cahaya lampu neon yang berkedip ritmis di langit-langit kamar. Putih. Semuanya terlalu putih, bersih, dan klinis hingga rasanya menyakitkan mata. Bau karbol yang tajam menusuk hidung, beradu dengan aroma samar bunga layu yang entah dari mana asalnya.

"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"

Suara itu datang dari interkom di sudut ruangan. Dingin, tanpa emosi, namun dipaksakan terdengar ceria—sebuah bentuk *toxic positivity* yang dibungkus dalam nada mesin. Nova tidak menjawab. Ia hanya duduk di tepi tempat tidur, merasakan jemari kakinya menyentuh lantai semen yang dinginnya menusuk tulang. Tubuhnya gemetar kecil, sebuah reaksi otomatis yang tak bisa ia kendalikan sejak "terapi dosis tinggi" minggu lalu. Tangannya meraba-raba sprei, mencari satu-satunya jangkar yang tersisa.

Di sana, di atas meja kecil yang penuh dengan coretan krayon yang kasar dan gelap, duduklah 'Tedi'. Boneka beruang itu terlihat menyedihkan; bulunya kusam, salah satu matanya yang terbuat dari kancing sudah agak longgar dan menggantung, namun bagi Nova, Tedi adalah segalanya. Tedi bukan sekadar mainan; dia adalah maskot kekuatannya, pusat dari gravitasi kewarasannya yang mulai miring.

"Ayo, Nova. Sarapan sudah siap," bisik Tedi. Tentu saja, mulut kapas itu tidak bergerak, tapi suaranya bergema jernih di dalam tengkorak Nova—berat dan penuh wibawa. "Jangan biarkan mereka menunggu. Kamu tahu apa yang terjadi jika mereka kecewa."

Nova melangkah pelan menuju ruang tengah apartemen yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. Di sana, "keluarganya" sudah menunggu dalam formasi yang selalu sama setiap pagi. Tidak ada ayah yang hangat atau ibu yang sibuk dengan aroma masakan rumahan. Yang ada hanyalah manifestasi dari kekosongan yang ia sebut keluarga halu.

'Dokter Likton' duduk di ujung meja, mengenakan jas putih yang tampak seperti terbuat dari cahaya statis yang bergetar. Wajahnya tidak pernah fokus, selalu bergeser seperti sinyal televisi yang buruk, menciptakan efek pusing bagi siapa pun yang menatapnya terlalu lama. Di sebelahnya ada 'Jek Alien', sosok jangkung kurus dengan kulit kebiruan dan empat mata yang berkedip tidak sinkron, sedang mengunyah sereal yang terdengar seperti pecahan baut dan mur logam. Dan tentu saja, 'Lilis Bunga', seorang gadis dalam gaun lusuh yang kepalanya adalah kuntum mawar raksasa yang terus menerus menggugurkan kelopak merah yang membusuk ke atas piring porselennya.

"Makan yang banyak, Nova," Dokter Likton bersuara. Nadanya datar, seperti gesekan pisau bedah pada nampan besi. "Pahlawan butuh nutrisi untuk menjaga kestabilan realitas. Tanpamu, dunia ini akan runtuh menjadi kertas kosong."

Nova menyuap bubur hambar ke mulutnya. Rasanya seperti menelan debu basah. Di dalam benaknya, ia melihat dirinya sebagai seorang pahlawan perempuan yang agung, mengenakan zirah nebula yang berkilauan. Namun, pantulan dirinya di cekungan sendok logam menunjukkan kenyataan yang berbeda: seorang remaja laki-laki dengan mata cekung, kantung mata yang menghitam, dan rambut berantakan yang tak terawat. Ia membenci pantulan itu. Ia ingin memecahkan sendok itu, memecahkan dinding putih ini, dan memecahkan dirinya sendiri hingga tidak ada lagi yang tersisa.

"Jangan lihat, Nova," bisik Tedi dari saku jaketnya. "Fokus pada misi. Fokus pada apa yang akan kita bangun hari ini."

Lihat selengkapnya