Good Morning, Nova: Teddy bear and Love

Pikri YAnor
Chapter #2

Siklus yang Retak dan Sepuluh Nyawa

"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"

Suara interkom itu adalah jarum jam yang menusuk gendang telinga Nova tepat di titik yang sama setiap harinya. Cahaya neon putih yang berkedip, bau karbol yang steril, dan dinginnya lantai semen—semuanya adalah salinan karbon dari kemarin. Nova duduk di tepi tempat tidur, tangannya secara mekanis meraba meja kayu untuk memastikan Tedi masih di sana. Boneka beruang itu tetap setia dengan satu mata kancingnya yang longgar, seolah-olah dia adalah satu-satunya saksi bahwa waktu sebenarnya berjalan, meski rasanya diam di tempat.

Ritual sarapan dimulai. Dokter Likton dengan wajah televisinya yang bersemut, Jek Alien yang mengunyah baut logam, dan Lilis Bunga yang kelopak mawarnya terus berguguran ke piring. Nova menelan bubur debunya dalam diam. Ia tidak lagi bertanya kenapa keluarganya berwujud aneh. Ia hanya ingin ritual ini segera usai agar ia bisa kembali ke lorong-lorong apartemen yang menyesakkan.

Namun, hari ini ada yang berbeda.

Di koridor sekolah, Nova tidak lagi hanya menunduk saat Clara dan Ken mendekat. Kali ini, Ilham dan Sahsha juga ada di sana, berdiri dalam lingkaran yang terasa lebih mencekam dari biasanya. Clara tampak lebih pucat, kemarahannya terasa seperti api yang kehabisan oksigen. Ken tidak memutar koinnya; tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Ilham terus menatap kakinya sendiri, seolah-olah bayangannya akan tiba-tiba bangkit dan mencekiknya. Sedangkan Sahsha, matanya kosong, menatap langit-langit seolah ia sedang mencoba membaca tulisan yang tidak ada di sana.

"Aku tahu apa yang kamu minum di UKS kemarin, Nova," desis Clara. Suaranya tidak lagi melengking mengejek, tapi penuh dengan rasa lapar yang putus asa. "Kami semua melihatmu. Kamu terlihat... bebas. Dan kami muak terjebak di sini."

Ken maju selangkah, menatap Nova dengan mata yang memerah. "Berikan pada kami, Nova. Atau aku akan menghancurkan boneka burukmu itu sekarang juga."

Nova gemetar, tapi ia melihat secercah kesadaran di mata teman-temannya yang hancur. Mereka semua pahlawan, mereka semuaHiro, tapi mereka semua adalah tawanan. Tanpa sepatah kata pun, Nova merogoh saku jaketnya. Ternyata, botol ungu keemasan itu kini penuh berisi pil berdenyut. Tedi telah menyediakannya.

"Minum," bisik Nova.

Secara serentak, mereka menelan pil ajaib itu.

Realitas apartemen asrama itu tidak sekadar robek; ia meledak menjadi jutaan kepingan kaca. Lantai putih itu luluh lantah, digantikan oleh jembatan-jembatan memori yang melayang di atas samudera kegelapan. Dan di sana, mereka berubah.

Nova menjadi pahlawan perempuan dengan zirah nebula yang berkilauan. Clara terbungkus jubah api merah muda yang membara, memegang pecut cahaya. Ken berubah menjadi ksatria lapis baja hitam kebiruan dengan palu godam raksasa. Ilham mengenakan pakaian bayangan yang membuatnya bisa menghilang ke dalam kegelapan, dan Sahsha mengenakan gaun putih dengan bando yang memancarkan aura suci yang menenangkan.

Lihat selengkapnya