Good Morning, Nova: Teddy bear and Love

Pikri YAnor
Chapter #3

Cinta yang Busuk dan Cermin yang Pecah

"Selamat pagi, Nova. Sudah siap menjadi pahlawan hari ini?"

Suara interkom itu merayap masuk ke celah telinga Nova, membawa serta aroma karbol yang seolah telah menjadi bagian dari indra penciumannya. Nova duduk di tepi tempat tidur, merasakan dadanya sesak. Setiap pagi adalah salinan buruk dari hari sebelumnya. Ritual "Keluarga Halu" berlangsung tanpa cela: Dokter Likton dengan wajah televisinya yang bersemut, Jek Alien yang mengunyah baut logam dengan suara 'krak-krak' yang memilukan, dan Lilis Bunga yang menumpahkan kelopak mawar busuk ke piring bubur Nova.

Nova menelan sereal hambar itu dengan susah payah. Di pikirannya, ia adalah ksatria wanita berbaju zirah nebula, namun di meja makan ini, ia hanyalah seorang remaja yang dipaksa menelan kenyataan yang tidak ia inginkan.

Setelah sarapan usai, ia melangkah keluar menuju sekolah. Lorong apartemen terasa lebih panjang dari biasanya. Di tengah jalan, seorang NPC—seorang pria paruh baya tanpa wajah yang jelas yang bertugas sebagai tukang sapu—berhenti dan membungkuk padanya.

"Selamat pagi, 'Tuan Putri yang Cantik'," ucap NPC itu dengan suara mekanis yang datar.

Nova tersentak. Panggilan itu seharusnya membuatnya senang karena mengakui identitas perempuannya, namun di tempat ini, segala sesuatu terasa seperti ejekan yang halus. NPC itu tidak melihat Nova; ia hanya membacakan baris dialog yang diprogram ke dalam kepalanya. Nova hanya mengangguk kecil, tangannya meremas Tedi di saku jaketnya dengan kencang hingga buku jarinya memutih.

Di halaman sekolah, Nova melihat seekor kucing liar kurus yang sedang mengeong lemah di dekat tempat sampah. Hatinya terenyuh. Dalam sisa-sisa "kebaikan pahlawan" yang ia miliki, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sisa makanan cepat saji—potongan daging olahan berminyak yang penuh bahan pengawet dari kantin.

"Makanlah, manis," bisik Nova lembut.

Kucing itu makan dengan lahap, namun beberapa menit kemudian, tubuh hewan kecil itu mulai mengejang. Busa putih keluar dari mulutnya. Nova membeku. Ia tidak tahu bahwa sistem pencernaan makhluk lemah itu tidak sanggup menerima limbah kimia dari makanan "pahlawan" tersebut. Dalam hitungan detik, kucing itu diam, mati dengan mata melotot ke arah Nova.

"Lihat! Si pahlawan membunuh kucing!" teriak seorang siswa NPC.

"Wah, Tuan Putri kita ternyata seorang pembunuh berdarah dingin," sahut yang lain.

Tiba-tiba, kerumunan NPC berkumpul, wajah-wajah mereka yang buram kini tampak penuh kebencian yang artifisial. Mereka menunjuk-nunjuk, melemparkan kata-kata kotor, menghakimi Nova atas sebuah ketidaksengajaan yang tragis. Dunia mulai berputar. Warna putih koridor seolah ingin menelan Nova hidup-hidup. Rasa mual yang hebat naik ke tenggorokannya. Kecemasan itu menjadi massa padat yang ingin meledak keluar dari perutnya.

Nova berlari, menabrak kerumunan itu, mencari tempat tersembunyi. Ia masuk ke dalam 'Toilet Campuran'—sebuah ruangan sempit dengan ubin retak dan lampu yang berkedip sekarat.

Di depan wastafel, ia menemukan 'Ilham'.

Ilham sedang meringkuk di lantai, kedua tangannya menutupi matanya, tubuhnya gemetar hebat. Di depannya, sebuah cermin besar retak di bagian tengah.

Lihat selengkapnya