Malam semakin larut ketika mobil pajero sport memasuki garasi sebuah rumah di komplek perumahan Cengkareng Jakarta Barat. Gea yang duduk di balik kemudi itu kemudian mematikan mesin mobilnya. Ia menyenderkan kepalanya sejenak pada jok mobil.
Lelah ternyata sepanjang siang hingga malam berada diperjalanan kota Jakarta yang padat.
Setelah meeting dengan client membicarakan pekerjaan yang akan dilakukan Gea, menjemput Yudea dan mengantarkannya ke rumah, lalu sekarang pulang dan sampai rumah tepat pada pukul 22.00 WIB.
Gea memijit pelipisnya yang sedikit terasa pusing, lalu segera turun ketika seseorang mengetuk kaca jendela pada mobilnya.
"Tolong bawain ini ya Mbak." Gea mengangsurkan beberapa plastik dan tas yang ia tenteng kepada Mbak Rini ART di rumahnya itu.
"Govan sama Aditya udah tidur ya Mbak?" tanya Gea lagi.
Setelah mengunci pintu mobil dan mengaktifkan alarm. Ia kemudian mendorong pintu garasi dengan sisa-sisa tenaganya. Mbak Rini akan membantu tetapi Gea tidak memperbolehkan sebab Mbak Rini sedang membawa barang-barangnya.
"Adit barusan tidur kecapean main, Mas Govan kayaknya belum tidur Ge, lampu kamarnya tadi masih nyala waktu aku mindahin Adit ke kamar."
Gadis dua puluh lima tahun itu mengangguk setelah memeriksa kembali bahwa pintu garasi sudah benar terkunci.
"Gerbang udah di kunci kan Mbak?" tanya Gea memastikan.
"Udah."
Gea pun mengangguk kembali. Rumah yang ia tinggali memang tidak semegah rumah Yudea, bahkan jauh sekali dibanding dengan rumah sahabatnya itu. Hanya rumah sederhana, tidak bertingkat, memiliki halaman depan dan belakang yang cukup untuk bermain Aditya yaitu anak semata wayang Mbak Rini dan Govan adik satu-satunya Gea. Namun bagaimanapun, Gea selalu berhati-hati menjaga keamanan dalam rumahnya. Walaupun ada satpam komplek, tetap Gea tidak ingin ceroboh apabila lupa mengunci gerbang ataupun pintu garasi.
Kemudian kedua perempuan dewasa itu mulai melangkah memasuki rumah. Gea yang berjalan dibelakang langsung mengunci pintu utama dan juga mematikan lampu ruang tamu sebelum kembali mengikuti Mbak Rini menuju dapur.
"Aku aja yang beresin Ge, mandi aja sana pakai air hangat biar ngilangin sedikit capeknya," ucap Mbak Rini ketika Gea ingin membantu berberes.
Gea menghela nafas. Memang dirinya sangat lelah.
"Yaudah Mbak, itu ada kue oleh-oleh dari Yudea, Mbak kalo mau makan aja, atau kalau nggak taruh kulkas dulu biar besok kita makan bareng-bareng."
Mbak Rini mengangguk paham. Ia mempersilahkan Gea untuk pergi membersihkan diri. Jika dihitung, sudah genap dua tahun ia tinggal bersama gadis muda itu. Sebenarnya selisih umur mereka hanya terpaut empat tahun.
Dan kisahnya yang tragis kemudian mempertemukannya kepada sosok baik hati seorang gadis muda. Bahkan hingga kini, Mbak Rini seolah berhutang budi pada Gea.