Goodbye.

Diyanti Rita
Chapter #4

Bab 4 - Segala rasa rumit yang sulit didefinisikan

~Flashback~

9 Maret 2019

.

"Aku suka sama kamu kak."

Suara pelan itu terbawa angin seiring dengan suasana yang sunyi. Malam semakin larut setelah mereka menghabiskan waktu makan bersama serta jalan-jalan di area taman kota.

Dua anak muda itu duduk berdampingan dengan jarak sejengkal. Gea meremas tangannya sendiri. Ia menunduk takut akan respon seseorang disampingnya.

Namun ia telah mengambil keputusan, apapun yang terjadi ia akan mengungkapkan segalanya malam ini juga.

"Dari awal kenal Kak Yudio, ngelihat Kak Dio di kampus dan beberapa kali bertemu di rumah waktu aku kerja kelompok. Dari situ semua rasa ini muncul, aku nggak tau harus gimana, lama-lama perasaan suka ini buat aku bingung," ucap Gea masih tetap menunduk. Terkadang angin menerbangkan helaian rambut lurusnya. Ia pun menyelipkan beberapa helaian rambut itu ke daun telinganya.

"Aku sering mikirin Kak Dio, sering bertanya-tanya tentang perasaan ini, mood swing yang kurang baik makanya aku mau memberanikan diri bilang secara langsung kalau aku suka sama Kakak, supaya aku ngerasa sedikit lega."

Gea kemudian memberanikan diri melihat laki-laki di sampingnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia menunggu dengan harap-harap cemas. Ia tau apa resiko jika ungkapan cintanya tidak dibalas. Namun membayangkan itu menjadi nyata sungguh sangat menyesakkan dada.

Gea kembali meremas tangannya sendiri. Ia sangat gugup seiring suasana yang kian canggung.

"Aku bilang ini supaya melegakan diri ku sendiri Kak, nggak usah ditanggapi dengan serius," ucap Gea yang sesungguhnya merasa takut.

Ia ingin berteriak saat itu juga. Suasana kian canggung. Orang disampingnya belum mengeluarkan sepatah kata pun. Padahal kaki Gea sudah gemetar sehingga ia beberapa kali terpaksa merubah posisi duduknya.

"Ge?"

Otomatis Gea langsung mendongak menatap seorang di sampingnya. Mata itu teduh namun secara bersamaan dingin sulit tersentuh. Mungkin sudah gila Gea bisa naksir kakak sahabatnya ini. Apa kata Yudea, Nita dan Amel jika mereka tau bahwa Gea telah menyatakan cinta kepada si malaikat es.

"Ayo pulang sudah malam."

***

Sampai di rumah, Gea tidak bisa untuk duduk diam dengan tenang. Ia sangat gelisah hingga mondar-mandir mengelilingi kamarnya.

Pernyataan cintanya amatlah tragis, tanpa balasan, tanpa tanggapan dan berlalu begitu saja. Bukannya lega atau tenang seperti yang diharapkan, Gea malah makin gelisah. Ia lantas menyambar ponselnya di atas kasur. Mengetikkan satu nama untuk dihubungi.

"Halo Nit?" ucap Gea setelah sambungan teleponnya dijawab.

Lihat selengkapnya