Bulir-bulir air hujan menetes pada jendela kaca di sebuah kantor perusahaan advertising. Seorang laki-laki tinggi dan tegap menyesap kopi cup pelan-pelan sembari memperhatikan tetesan-tetesan air hujan itu di kaca. Tadi hujan lumayan deras disertai angin, namun sekarang hanya gerimis yang tersisa.
Ia lantas memperhatikan jam tangan rolex montoya automatic chrono di pergelangan kirinya. Masih pukul sebelas, sisa satu jam lagi sebelum istirahat untuk makan siang.
Gea :
Kak, gimana kabarnya, masih sibuk banget ya?
Pesan whatsApp yang ia terima lima belas menit yang lalu kembali terlintas. Belum Yudio buka, dia hanya mengintip lewat notifikasi yang masuk dan belum berani untuk membukanya.
Laki-laki berkemeja rapih itu kembali menyesap sisa kopinya dengan pandangan mata yang mengarah keluar jendela kaca, memperhatikan gedung-gedung pencakar langit di pusat Jakarta. Suasana selepas hujan ternyata semakin membuat pikiran laki-laki dua puluh tujuh tahun itu makin kacau.
Entahlah, makin hari makin kacau saja pikirannya jika berhubungan dengan Gea. Perempuan muda yang cantik dan tak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti ini darinya.
Yudio menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Ia membuang cup kopi yang telah habis ke kotak sampah. Ia tampak jauh lebih lelah dan segera kembali ke kursi kerjanya.
"Huuhh," keluhnya dengan agak berat. Laki-laki itu menyenderkan punggungnya sembari menimang-nimang ponsel miliknya sendiri.
"Balas atau telpon?" gumamnya pelan. "Atau biarin aja," lanjutnya seperti orang gila yang berbicara dan bimbang sendiri.
Lantas jemari Yudio mulai lincah membuka pola serta membuka aplikasi chatting. Dan langsung tertuju cepat dengan membuka pesan dari Gea pacarnya.
Pacar? Bahkan Yudio jika mengingat status pacar merasa amat bersalah. Sudah dua bulan ini ia mengabaikan Gea. Setelah sadar akan perasaannya sendiri, Yudio tak tahu harus gimana untuk menjalankan hubungan yang hangat seperti satu tahun yang lalu. Ia tak bisa dan perlahan juga mengabaikan perempuan itu, alih alih membicarakan dan menyelesaikan dengan damai.
"Hahh!" Laki-laki itu tampak frustasi sendiri. Ia mengacak rambut belakangnya.
Yudio sadari, sikapnya seperti remaja labil yang kekanakan. Bertolak belakang dengan setelan jas, jabatan serta ruang kerja yang ia miliki. Ia sudah ingin mengabaikan, namun kembali menyambar ponsel dan kemudian menekan icon gagang telepon di pojok kanan atas dengan cepat.
"Halo kak?"
Suara itu, suara yang sudah satu minggu ini tidak dia dengar. Masih terdengar sama, ceria dan ramah.
"Iya Ge, lagi dimana?"
"Di rumah kak, lagi sibuk banget ya?"
Yudio menatap layar laptopnya yang menghitam dan memainkan pena nya dengan tangan sebelah kiri.