Hiruk pikuk kota Jakarta yang tak ada santainya kian terlihat jelas di ketinggian empat meter. Gedung-gedung pencakar langit menghiasi simbol kemodern an ibu kota.
Sedangkan di meja paling pojok dekat dengan pagar pembatas resto cepat saji itu tampak seorang gadis dua puluh lima tahun meminum pelan soda yang ia pesan. Bahkan semerbak sajian makanan cepat saji tercium seiring dengan hembusan angin yang agak kencang.
"Gea Nirmala Putri?" Suara maskulin dari seorang lelaki terlintas begitu Gea mulai tak fokus memandang.
"Anak teknik informatika Trisakti, alumni 2018 kan?"
Bahkan Gea masih merasa tak menyangka beberapa jam yang lalu, ketika si lelaki tak asing bertanya secara detail dan lengkap.
"Iya, gue Gea, Ti."
Sakti Sanjaya, salah satu mahasiswa yang pernah menyatakan cintanya pada Gea ketika di bangku kuliah. Dan yang lebih mengejutkan dari pertemuan itu adalah.
"Kalian sudah saling mengenal? Bagus. Mba Gea dan Mas Sakti akan menjadi partner."
Gea lantas menghembuskan nafasnya dan menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. Sebenarnya dia tak ingin lagi terlibat dengan orang-orang semacam Sakti. Bahkan ini terlalu mengejutkan, walau mungkin saja Sakti sudah memiliki pasangan. Tetapi tetap saja, Gea tak bisa melupakan ketika ia menolak dengan agak kasar atau malah kasar dan memalukan untuk diingat.
"Siapa sangka kalau sekalinya ketemu langsung jadi partner kerja." Suara laki-laki yang masih menjadi beban pikiran Gea terdengar jelas. Lantas Gea mendongak dan segera melihat adanya laki-laki seumurnya itu dengan membawa cup soda pesanan miliknya.
Bahkan masih dengan gaya yang sama, Sakti dengan ekspresi yang pongah mengambil duduk tanpa izin.
"Di Jakarta yang sempit ini bahkan setelah lulus kita nggak pernah ketemu lagi, Ge." Laki-laki itu berkata kembali dan berdecak sembari menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Gea seketika tersadar dan mendengus tak suka. "Lo ngikutin gue ya?" tuduhnya segera.
"Iya, sengaja sih. Habis meeting gue ikutin mobil lo." Bukannya mengelak laki-laki itu mengakui dengan jujur.
Lantas Gea semakin tidak suka. Sakti yang seperti ini yang membuat Gea risih bahkan sejak masa kuliah dulu. Sampai dia harus bertindak tak sewajarnya dan malu untuk diingat.
"Kenapa? Demi apa lo masih kayak gini, Ti?"
Gea bisa saja mengeluarkan kata-kata kasarnya seperti dulu. Namun dia telah tumbuh dewasa dan lebih bisa mengendalikan emosinya. Menghadapi Sakti selalu butuh kesabaran. Laki-laki itu sungguh diluar nalar.
"Lo pikir gue bakal berubah?"
Senyuman itu, senyuman yang tidak ingin Gea lihat kembali. Bahkan sorot mata yang tajam namun penuh godaan tersirat itu juga Gea tidak ingin lihat kembali.
Gea memalingkan wajahnya merasa sedikit kesal. Ia lantas memperhatikan suasana yang kian redup tanda akan datangnya malam. Minuman soda yang Gea pesan hanya tinggal setengah. Sebenarnya ia ingin duduk menikmati sore hingga malam menjelang, namun kedatangan Sakti membuatnya ingin segera pulang.
"Sakti, serius lo udah punya pasangan kan?"