Kantor tempat Gea bekerja bukan berada di pusat kota ataupun di dalam gedung pencakar langit. Hanya terletak di perumahan elit tiga lantai di Bintaro Jaya dengan pemandangan komplek yang asri. Hembusan angin lantas menerbangkan helaian rambut lurusnya. Gadis itu sengaja mengurainya, pakaian yang ia kenakan pun tergolong formal. Bawahan celana bahan dengan dipadukan kemeja dan blezer.
Gea memandang ke depan pada jalanan komplek yang lenggang. Sengaja lengannya ia tumpukan di atas pagar pembatas balkon lantai dua. Menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan.
Kesan pertama bekerja di kantor cukup baik dan nyaman. Bahkan Gea merasa salah kostum karena rekan kerja yang lain berpakaian santai saja. Termasuk juga Sakti. Laki-laki itu hanya menggunakan kaos oversize dan celana jeans. Dan ternyata memang tidak perlu berpakaian formal untuk bekerja di perusahaan rintisan ini. Gea baru tau setelah bertanya dengan salah satu karyawan yang bekerja.
"Karena pembagian tugas udah jelas, oke kerja serius."
Perkataan Sakti pagi tadi sebelum bekerja dengan serius terlintas. Benar yang dikatakannya, serius. Mereka akhirnya satu ruangan dan untuk pembagian tugas memang sudah jelas dan sudah dibahas ketika bertemu sore hari di resto cepat saji. Gea bagian frontend dan Sakti backend.
Lantas tampak terlihat kedatangan laki-laki itu dengan langkah kaki yang menggema. Gea menoleh dan melihatnya, Sakti mendekat dengan membawa dua cup kopi di kedua tangannya.
"Mungkin yang gue lihat nggak salah, kopi buat merileks kan pikiran." Sakti berkata sembari mengangsurkan satu cup ke hadapan Gea. Laki-laki itu sepertinya kembali kesetelan awal dengan tata bahasa ambigu dan ekspresi wajah mengesalkan. Jelas berbeda sekali ketika dalam mode bekerja. Entah mengapa Gea melihatnya sangat menarik ketika laki-laki itu sedang serius bekerja.
"Udah Ti, nggak usah mulai." Gea berkata. Ia pun menerima. "Btw thanks," ucapnya.
Sakti kemudian mengikuti gestur Gea, memperhatikan pemandangan komplek yang ternyata cukup enak juga dipandang dari atas balkon lantai dua ini. Ia menyesap perlahan kopi miliknya.
"Berapa lama lo ambil karir programmer?"
Perkataan Sakti memecah keheningan, Gea pun menghela nafas sesaat. "Setelah lulus kuliah," ucapnya menjawab. "Lo?" tanyanya balik. Seingat Gea, Sakti tidak terlihat menyukai mata kuliah yang berhubungan dengan pemrograman dulu.
"Sebelum lulus kuliah."
Perkataan singkat itu jelas membuat Gea menoleh. Masalahnya ketika kuliah rekan kerjanya itu tak terlihat menyukai mata kuliah pemrograman. "Demi?"
Lantas Sakti membalas dengan decakan. "Lo emang nggak sepercaya itu sama gue sih."
Gea tidak lagi membalas. Dia memang tidak tertarik ingin tau kehidupan laki-laki itu. Mencari aman saja, sebab bagaimanapun kisah mereka tampak rumit sebelum menjadi rekan kerja seperti sekarang ini. Gea sudah merasa nyaman dengan keadaan sekarang.
"Yudio apa kabar?" Tak lama berdiam diri, Sakti bertanya.
"Lo tanya gitu, gue agak gimana gitu, Ti." Gea hanya jujur, dia tidak terbiasa dengan pembahasan Yudio dengan laki-laki itu.
"Lo lagi mikir dia kan?"
Gea kembali tidak membalas. Dia sebenarnya kaget dengan tebakan Sakti yang ada benarnya. Tentu saja Gea tidak bisa melupakan foto yang di upload Rena Rania kemarin malam. Bahkan hingga sekarang pun Yudio tidak ada kabar.
Tapi memang biasanya Yudio tidak ada kabar, kan?
"Kayaknya waktu istirahat udah selesai deh." Gea memilih mengubah alur. Perempuan itu sengaja pelan-pelan pergi lebih dulu. Meski Sakti sadar, laki-laki itu berdiam tak menahan. Dia lantas menyunggingkan senyum yang tak biasa setelah Gea pelan pelan menjauh.
"Nanti gue ke rumah."
Suara Sakti tentu masih terdengar oleh Gea. Namun gadis itu tetap berjalan dengan santai tanpa ambil serius ucapan rekan kerjanya itu. Biasa, Sakti.
***
"Pemisi Pak."