"Kak, Papa minta maaf ya?"
"Kok minta maaf sih?"
"Iya tiba-tiba Papa ngerasa bersalah."
"Dih, gara-gara nggak belain waktu Mama ngomel ya?"
"Iya," laki-laki dewasa itu terkekeh membuat Gea ikut terkekeh.
Seketika Gea mencondongkan duduknya, melirik ke arah dapur yang tak ada siapa-siapa. "Kan Mama memang suka ngomel, aku sudah biasa, Pah."
Lantas gadis itu tersenyum lebar membuat sosok laki-laki yang dia panggil Papa menggelengkan kepalanya. "Tapi, jangan isengin Govan terus, kak."
"Ya gimana aku kalo lihat Govan pinginnya ngisengin, Pah."
"Nanti kalau Papa Mama pergi kamu bisa jagain Govan kan?"
"Bisa lah, emang Papa mau kemana?"
"Kerja, ada dinas ke Surabaya mau ajak Mama."
***
Sorot mentari pagi masuk dari celah-celah tirai jendela yang tak menutup rapat. Gea yang tengah bergelung dalam selimutnya seketika melenguh akibat terganggu dengan cahaya yang mulai terang. Ia merenggangkan tangannya dan menguap dengan lebar.
Badannya terasa pegal-pegal dengan kepala yang berdenyut tak nyaman terasa berat. Lantas ia membuka matanya, sadar telah memimpikan kedua orang tuanya.
"Kak, udah bangun belum?" Govan mengetuk pintu kamar milik Gea. Namun belum juga mendapati sahutan dari dalam, dia sudah membuka dengan perlahan.
"Aku mau berangkat." Govan membuka lebih lebar daun pintu. Remaja itu sudah rapih dan lengkap dengan pakaian putih abu-abu. Rambutnya pun di sisir klimis menambah kesan seorang Govan yang dingin dan kaku.
"Rapih banget, tumben?" balas Gea lantas bangun dari tempat tidur. Namun belum juga ia berdiri seketika dirinya kembali terduduk akibat rasa pusing yang mendera. Reflek Gea memegangi kepalanya.