Goodbye.

Diyanti Rita
Chapter #12

Bab 12 - Kian tak lagi menggetarkan

Mentari cerah menyapa. Langit biru di atas sana pun terlihat indah untuk dipandang. Cerah cenderung terik, atau malah amat sangat terik.

Tak bisa terbayangkan untuk orang-orang yang beraktifitas langsung terkena panasnya matahari. Pasti terasa tak nyaman dan membakar kulit. Sebab masih beruntung karena Gea tidak merasakan sengatan matahari secara langsung. Gadis itu hanya duduk manis di kursi penumpang sebuah mobil yang melaju membelah jalanan yang tak begitu padat akan kendaraan.

Namun yang sedikit menjengkelkan dari semua keberuntungan yang ada, yaitu ketika Gea menoleh ke samping, ke arah seseorang yang duduk di kursi kemudi, membuatnya seketika merasa sungkan dan agak sebal.

Beberapa puluh menit yang lalu, Sakti tiba-tiba datang ke rumah dan memaksa Gea untuk berangkat kerja bersama. Padahal gadis itu hanya jujur mengatakan agak pusing ketika rekan kerjanya itu menanyakan alasan keterlambatannya di WhatsApp. Namun siapa sangka, laki-laki yang memiliki kepribadian sama dengan namanya itu mengejutkan Gea dan Mbak Rini atas kedatangan pagi tadi.

"Mampir ke apotek kan?"

Gea lantas kembali menghela nafas. Sebelum berangkat Mbak Rini berseru mengingatkan Gea untuk beli obat. Laki-laki itu tentu mendengarnya.

"Iya," jawab Gea sekenanya.

"Nggak periksa sekalian ke dokter aja? Biar lebih praktis dan efisien." Sakti sejenak menolehkan kepalanya dan kembali fokus mengemudikan mobil Toyota Fortuner VRZ 4x4 AT Diesel miliknya. Laki-laki itu kini mengenakan atasan dan bawahan denim. Kemeja dipadukan dengan kaos putih. Dan sepatu yang ia kenakan berwarna putih senada dengan kaos yang dipakainya.

"Gue nggak sakit parah," ujar Gea menjawab pertanyaan laki-laki di sampingnya itu.

"Ya kan periksa untuk memastikan, siapa tau ada gejala-gejala yang nggak terduga, jadi lebih efisien." Sakti berucap dengan santai. Meski nada bicaranya masih terdengar menyebalkan di telinga Gea, namun gadis itu paham akan simpati rekan kerjanya itu. Jadi Gea tak menyulutkan emosi yang tak perlu.

Dia kembali menghela nafasnya. Berkata namun tetap memandang kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang melewatinya. "Gue ngerasa nggak sesakit itu buat ke rumah sakit sih. Beli obat ke apotek aja udah cukup, Ti."

Sakti tak membalas. Dia lantas menepikan mobil dan memasuki pekarangan sebuah apotek yang cukup besar. Dan ketika mobil terhenti, Gea langsung beranjak. Ia tak ingin lebih menyusahkan Sakti jika harus menunggunya lebih lama. "Bentar ya, sori banget udah ngerepotin."

***

Siang pun berlalu dengan tergesa seolah matahari tak ingin memberikan sengatannya lebih lama lagi. Kini sore telah menjelang. Pekerja kantoran telah beranjak untuk pulang, begitu pula Yudio. Ia memilih untuk pulang tepat waktu, sesuatu yang jarang ia lakukan lagi.

Laki-laki itu pun lebih memilih menatap perumahan tanpa gerbang di dalam mobil BMW X5 The Boss miliknya alih-alih keluar dan menelpon seseorang yang telah ditunggunya.

Lihat selengkapnya