Goodbye.

Diyanti Rita
Chapter #14

Bab 14 - Seakan disudutkan pada keputusan yang tak diinginkan

"Kita coba untuk jalin hubungan lebih dekat."

Benar. Gea tak pernah mengingat kalimat yang harusnya penting itu. Ia hanya merasakan efek senang tak terkira ketika ia akhirnya bisa menjalani hubungan spesial dengan Yudio. Kala itu Gea terlalu senang. Bahkan setelahnya ia menjadi amat sangat senang seakan akan hidupnya dipenuhi bunga yang bermekaran.

Sebenarnya itulah efek Yudio bagi Gea. Yudio bagaikan sisi hidupnya yang lain yang ada dalam dirinya. Menjadikannya senang, menjadikannya kuat seperti dopamin dengan efek yang tinggi.

Namun meski begitu, meski sempat menutup diri dan mengelak, Gea tetap manusia biasa. Dimana dia bisa merasakan perubahan perubahan yang tak biasa. Tembok yang mulai kokoh seperti berada diantara dirinya dan Yudio. Meski awalnya tak terasa ada tembok, namun pelan entah dari mana pondasi tumbuh, kemudian tembok pun pelan pelan meninggi. Sampai Yudio terasa tak nampak, tak bisa tergapai dan tak bisa ia genggam seperti sebelumnya.

Dan pada suasana yang tenang, radio mengalunkan lagu melankolis lokal. Belum ada percakapan dalam sepersekian menit setelah mereka memutuskan untuk pulang. Sebenarnya Yudio yang memutuskan karena Gea terlihat semakin tak sehat.

"Ayo pulang, kamu keliatan harus istirahat."

Yudio mengajak pulang selepas mereka menikmati hidangan ayam bakar di MinaRa resto. Dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju kediaman Gea.

"Ge, kamu yakin nggak sakit?"

Yudio menoleh sekilas untuk memecahkan kesunyian. Sejak tadi ia terganggu dengan tampilan pucat yang tak sehat. Sesuatu dalam dirinya tertohok kala melihatnya. Apalagi tak banyak percakapan yang timbul diantara mereka. Gea hanya menanggapi sedikit sedikit dan menanyakan sedikit sedikit. Padahal gadis itu ceria sebelumnya.

"Cuman kecapean aja kayaknya, Kak." Lantas Gea menanggapi. Ia menyenderkan tubuhnya pada kursi. Semakin merasakan denyutan di kepalanya.

"Nggak mau periksa?" Yudio menawari.

Helaan nafas Gea terdengar berat. Ia menegakkan duduknya dan menampilkan senyum kala menoleh. "Mungkin istirahat aja nanti, besok udah sembuh."

Yudio pun mengangguk tak kembali berkomentar. Laju kendaraan yang ia bawa berkecepatan standar. Jalanan malam lenggang. Ia tengah fokus pada jalanan saat Gea mengambil sesuatu di dalam tasnya.

"Waktu itu aku pernah bilang mau kasih sesuatu kan, Kak?"

Gea kemudian menunjukkan kotak kecil berbahan kayu mengkilap yang terlihat elegan. "Ini jam tangan dari kayu, produk homemade. Waktu aku liat ini langsung ingat Kak Dio karena suka jam tangan."

Yudio lantas menerima. Ia membuka kotak itu sembari memperhatikan jalanan malam Jakarta.

Lihat selengkapnya