"Dok, gimana kakak saya?" Govan seketika berdiri dari kursi tunggu. Raut wajah khawatirnya kentara membuat Mba Rini lekas menghampiri.
"Mba Gea sedang istirahat, Dek. Jangan khawatir ya."
Tampak Mba Rini menenangkan Govan agar remaja itu tak perlu khawatir. "Tapi kenapa Gea belum siuman ya, Dok?" Mba Rini bertanya. Meski ia berusaha menenangkan Govan, nyatanya dalam dirinya juga merasa tak tenang.
Bagaimanapun, ia melihat pagi tadi Gea tak sehat dan memaksakan untuk tetap bekerja. Namun malamnya perempuan itu malah mendapati kabar yang mengejutkan tentang kondisi buruk bos muda yang sudah ia anggap adiknya itu.
"Mba Gea sudah siuman, hanya saja saat ini sedang istirahat. Kami sudah memberikan obat untuk menurunkan deman." Sang Dokter yang berusia paruh baya itu menjelaskan dengan tenang. "Jadi malam ini biarkan Mba Gea istirahat terlebih dahulu. Besok bisa pulang setelah kondisinya membaik."
"Baik Dok, terimakasih."
Mba Rini segera mengajak Govan untuk duduk kembali setelah kepergian sang Dokter. Ia pun segera mengambil alih Adit dari pangkuan Sakti yang tampak tenang tak terganggu.
Laki-laki itu sejak datang belum kunjung mengeluarkan kata kata. Berbanding terbalik ketika ia datang ke rumah sore tadi untuk bertemu Gea yang ternyata belum pulang. Sakti dengan asiknya mengajak Govan bermain PS, ia pun mengajak Adit bermain, bahkan juga mengajak Mbak Rini mengobrol sembari menunggu Gea pulang.
Namun bukannya mendapati sang tuan rumah pulang, mereka malah mendapat kabar Gea yang tak sadarkan diri. Sehingga dengan cepat Sakti menawarkan diri untuk mengantar ke rumah sakit tempat Gea dirawat.
Laki-laki itu dapat dibilang tipe orang yang mudah mengendalikan diri dengan ketenangannya. Meski sejak tadi ia diam, nyatanya beberapa kali laki-laki itu menyerobot pandangan ke arah Yudio yang duduk di kursi seberang ditemani Yudea.
Sorot matanya sejak dulu memanglah tajam, namun menurut Yudio pandangan Sakti terlalu berlebihan, ia lantas membalas sorot tajam menyudutkan itu dengan pandangan yang dingin.
"Kak Gea nggak kenapa kenapa kan, Mba?"
Dalam kesunyian yang kian membeku Govan bertanya pada Mba Rini. Remaja itu tak bisa diam meremas remas tangannya. Kekhawatiran tampak jelas terlihat membuat orang-orang disekitarnya bersimpati.