Kannushi dan sepasang miko berdiri di sisi haiden, membungkuk dalam-dalam kepada Hakuyoshi-no-Kami. Setelah itu, mereka bangkit kembali, lalu berbalik untuk mulai membersihkan dan membereskan area kuil. Mempersiapkan untuk penghormatan dan doa-doa para orang dewasa dari desa yang akan datang sekitar satu jam lagi.
Seperti biasa. Burung-burung beterbangan di atas kompleks kuil, sambil berkicauan ceria, juga persis seperti fajar-fajar pada hari lain. Hembusan angin tipis-tipis, sejuk. Berpadu dengan belaian cahaya hangat matahari mengintip dari ujung bumi.
Bedanya, kali ini ada suara cekikikan dan tawa renyah khas anak kecil bersahut-sahutan sejak tadi. Ren dan Ai kejar-kejaran di halaman tengah, area luas antara haiden dan honden. Sandal mereka sesekali menyisakan bekas di tanah saat berhenti sebelum berbalik untuk berlari ke arah lain.
Ren menyeru lantang tiap kali berhasil menangkap Ai. Gadis mungil itu kemudian ditarik ke punggungnya, untuk digendong sambil berlarian kembali, sampai-sampai Ai cekikikan makin berseri, seakan-akan tak bisa berhenti. Lalu, saat Ren menurunkannya, si gadis mungil akan langsung berbalik untuk berlari ke arah lain sambil tertawa lagi karena tahu kalau si anak lelaki akan langsung mengejarnya kembali.
Sementara itu, Haru duduk di anak tangga paling atas—hanya ada tiga anak tangga—di depan bangunan honden yang menghubungkan tanah dengan beranda setinggi satu meter. Dia mendongak untuk menatap seorang pria. “Hakuyo-sama sudah hidup sangat lama sekali, ya? Waktu pembangunan Shimogamo-jinja, salah satu kuil tertua, Anda melihatnya langsung, tidak? Pasti begitu luar biasa melihat langsung momen hebat seperti itu!”
Hakuyo berdiri di beranda, hanya satu langkah di samping si anak kecil. Mata garang memandang dua anak di halaman tengah. “Jangan berlarian terlalu dekat dengan pohon! Akan sakit bila kalian tak sengaja menabrak pohon!”
“Baik, Kitsune-sama!” seru Ren, masih penuh semangat.
“Kami akan lebih hati-hati, Hakuyoshi-no-Kami-sama,” kata Ai dengan lembut sebelum beranjak sejauh mungkin dari pohon-pohon besar di sekitar.
Setelah itu, barulah Hakuyo menatap bawah kepada Haru. “Shimogamo-jinja? Rupanya kau selalu tertarik dengan kuil-kuil. Bukankah demikian?”
Binar-binar di mata si anak kecil makin berkilauan. Dia mengangguk antusias. “Selalu! Aku menyukai semua kuil! Aku menyukai Kami yang baik! Tapi… aku takut pada Kami yang jahat.”
Hakuyo memandang depan kembali. “Shimogamo-jinja, kau tanya? Mari kuingat. Itu salah satu kuil tertua, dibangun lebih dua ribu tahun lalu. Hmm, aku masih muda waktu itu.”
“Muda? Artinya, sekarang Hakuyo-sama sudah tua?” Tatapan anak itu tak meninggalkannya sama sekali. “Rambut, ekor, telinga Anda berwarna putih karena sudah tua? Hakuyo-sama itu lebih tua dari Nenek? Lebih tua dari neneknya neneknya nenek?”
Kedua tangan Hakuyo semula bertaut di belakang tubuh. Saat ini, salah satunya terulur untuk menepuk puncak kepala si anak kecil—sedikit kencang agar diam. “Semakin tua seorang Kami, maka kian luas pengetahuan dimilikinya. Dan, penampilanku memang seperti ini! Berhenti mengatakannya seakan-akan itu sesuatu yang bisa ditertawakan.”
Haru memiringkan kepala, sambil berkedip beberapa kali. “Aku tidak menertawakan Hakuyo-sama. Seseorang yang tua—maksudku sudah hidup lama sekali, itu luar biasa!”
Hakuyo mengerang, menyimpan tangan di belakang tubuh kembali. Dia tak tahu apakah anak kecil itu memuji, pura-pura polos, atau dirinya sendiri saja yang tiba-tiba saja menjadi mudah tersinggung.
Di sisi haiden, Kannushi muncul. Berdiri di sana untuk membungkuk dalam-dalam. “Permisi, Hakuyoshi-no-Kami-sama,” katanya lirih, menjaga interaksi supaya seminim mungkin. Dia bangkit kembali. “Aiko, Ren, Haruka. Mari kembali, para paman dan bibi telah selesai memberikan penghormatan dan doa mereka.”
“Baiklah, Kannushi-san!” Ren kemudian menoleh ke honden sambil membungkuk. “Sampai jumpa, Kitsune-sama!”