Bunyi sapu bergesekan dengan tanah terdengar sama-sama. Kannushi dan para miko sedang membersihkan halaman kuil. Sesekali beberapa burung kecil melintas di atas, sambil bersiul ceria. Hembusan angin tipis-tipis berlalu. Hangat sinar matahari fajar menyentuh kulit.
Di beranda honden, Haru duduk menyandar dinding bangunan. Di sampingnya, berdiri seorang pria dengan kimono biru es dengan rambut panjang dan tujuh ekor seputih salju bagai menyelimuti. Tangan di belakang tubuh.
“Ren dan Aiko tidak ikut datang pagi ini. Kata Kannushi-san, mereka masih tertidur karena semalam terbangun sampai lebih larut dari biasanya karena menghabiskan waktu di festival.”
Sepasang mata emas pucat Hakuyo bergeser padanya. “Lalu, kau tidak mengantuk?”
“Agak,” kata anak itu, mengusap mata sebentar. “Tetapi, aku lebih ingin menemui Hakuyo-sama. Lihat,” dia mengangkat sesuatu di tangan untuk ditunjukkan, tahu-tahu sudah mengalihkan topik pembicaraan, “Miko menjual omamori di festival semalam.”
Omamori, jimat dari Kuil Hakuunzan Jomyo-gu yang dipercayakan dapat memberikan perlindungan dan keberuntungan. Terbuat dari kain berbentuk kantong kotak bertuliskan Hakuyoshi-no-Kami. Berisi ofuda, yaitu potongan kertas lembar doa, dan bahan lain lebih kecil disebut dengan busshin. Terhubung dengan sebuah tali kecil di atas sebagai pegangan.
“Semua orang berbondong-bondong membelinya!” seru anak itu, senyuman lebar berseri, diikuti tawa kecil kegirangan. “Sampai-sampai kios milik Miko menjadi yang pertama kali habis.”
“Baguslah kalau begitu.” Perlahan, tatapan Hakuyo bergeser kembali, ke arah sebaliknya dari si anak kecil. Orang-orang datang untuk memberikan penghormatan dan berdoa setiap hari. Hakuyo tahu bahwa beberapa hari lalu Kannushi dan Miko memang datang ke kuil di waktu tidak biasa untuk mempersiapkan omamori—dan Hakuyo, terlepas dari segala pembawaan dingin dan galak, memberkati semua omamori dengan sungguh-sungguh. Sudah begitu, sekarang ternyata semua semua omamori itu terjual. Sekali lagi, terlepas dari orang-orang desa yang hanya berani untuk membungkuk dari kejauhan tiap kali dia menampakkan wujud akibat sifatnya yang dingin, galak, dan menjaga jarak.
Haru, memiringkan kepala sedikit, merasakan perubahan di sekitar pria itu. “Ada apa, Hakuyo-sama?”
Pria itu masih belum juga menatap si anak kecil kembali. “Bukan apa-apa.”
Beberapa saat, Haru tak mengalihkan pandangan dari pria itu. Ada sebagian yang membuatnya merasa khawatir, tetapi ada pula sebagian yang secara alami mengatakan padanya bahwa tak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan. Setelah itu, dia memanggilnya, “Oh, iya, Hakuyo-sama,” khas anak kecil yang mudah beralih fokus, termasuk dalam hal topik pembicaraan.
Hakuyo menoleh juga, sudah kembali ke pembawaan dingin dan galak seperti biasa. “Ada apa?”
“Nenek khawatir, bilang padaku untuk bertanya apakah Hakuyo-sama sungguh tak keberatan apabila aku sering berkunjung untuk mengobrol atau bermain di kuil.”
Salah satu telapak tangan Hakuyo tahu-tahu sudah berada di puncak kepala si anak kecil, menepuk lembut. “Kau boleh berkunjung kapan saja. Selama telah membunyikan lonceng di haiden, aku akan selalu mengetahui bahwa kau sedang berada berkunjung. Dan, aku akan selalu berada di sini.”
Sesaat, sepasang mata berbinar si anak kecil terpaku padanya. Haru merasakan itu, belaian lembut di rambutnya. Hakuyo telah beberapa kali melakukannya—tetapi kali ini terasa berbeda. Haru tak lagi merasakan jarak tak kasat mata di antara mereka—yang bahkan dia baru menyadarinya sekarang bahwa itu pernah ada.
Tatapan Hakuyo masih sama, lekuk-lekuk wajahnya masih sama. Datar, tanpa ekspresi. Namun, Haru tak bisa untuk tidak berpikir bahwa sesungguhnya—entah bagaimana cara pria itu menyembunyikannya—dia sedang tersenyum dengan tatapan lembut.
“Hakuyo-sama!” Di saat itu, Haru yakin ini saatnya. “Bagaimana kalau ke desa? Kita dapat mengunjungi danau, melihat kincir air, memetik buah semangka untuk dimakan bersama-sama! Lalu, ada kedai yang selalu menjual kitsune soba, kitsune udon, dan inari sushi! Makanan-makanan kesukaan Anda!”
Sekali lagi, Hakuyo mengusap pelan rambut si anak kecil, sebelum menarik lengannya kembali untuk ditautkan di belakang tubuh. Dia mendengarkan hingga Haru selesai bicara. Kemudian menjawab sambil menatap depan kembali, “Kalau itu tidak bisa.”
“Mengapa?” tanya si anak kecil begitu. Jawaban pria itu terasa tidak senada dengan segala hal terasa darinya saat ini. Seperti ada yang salah, ada bagian-bagian yang tidak seharusnya di sana. “Karena banyak orang terluka saat bencana waktu itu? Namun, aku yakin hal seperti itu tak akan terjadi lagi.”
“Bagaimana bisa kau yakin?” kata Hakuyo, nyaris memotong. Sekilas, suaranya seperti agak bergetar. Seperti seseorang yang menahan benang terakhir sebelum meledak menjadi amarah. Namun, juga lebih terasa seperti ada air yang sedang ditahan.
“Aku percaya kepada Hakuyo-sama,” jawa Haru, enteng, tetapi tulus.
Si pria tak mengatakan apa pun. Sesungguhnya ada, tetapi dia memilih untuk menahan kalimatnya—bahwa dialah yang tidak memercayai dirinya sendiri. Anak-anak kecil itu aneh. Tidak, sosok seperti Hakuyo yang pernah dikenal begitu dekat dengan anak kecil, seharusnya memanglah memahami bagaimana pikiran anak kecil berjalan.
Mereka lugu. Tawa-tawa kecil begitu ringan. Murni oleh kebahagiaan, tanpa ada beban-beban, topeng palsu licik, apalagi tangisan. Logika hanya cukup sederhana, hati yang bergerak lebih utama. Maka karena itu, kata-kata mereka terkadang terdengar tidak masuk akal. Namun, ketulusan dan kesungguhan anak-anak kecil tak akan pernah ada yang bisa mengalahkan.
Kalau mereka bilang percaya, semata-mata karena mereka ingin percaya. Tak masalah apa pun yang pernah terjadi.
Dan mungkin… mungkin… kali ini Hakuyo harus lebih yakin kepada anak itu daripada dirinya sendiri.